Elnino M Husein Mohi
16 Feb 2006
Kamis, 16 Februari hari ini Provinsi Gorontalo lepas dari status Balita. Banyak hal yang berubah, baik yang ke arah positif maupun ke arah negatif. Prestasi dan reputasi para pemimpin daerah ikut ditanggapi seiring dengan perubahan yang tersebut. Dia bisa positif bisa juga negatif, tergantung pada paradigma metodologis yang dianut si penilai. Apalagi, sudut pikir para (mantan) pejuang pendirian provinsi Gorontalo sangat mungkin akan berbeda secara prinsipil dengan sudut pikir para pejabat provinsi. Bahkan perbedaan pendapat juga bisa terjadi antar sesama pejuang pembentukan provinsi dan antar sesama pejabat provinsi.
Setelah lima tahun penuh, Gorontalo hari ini dipandang kagum oleh banyak orang Indonesia. Performens Gubernur Fadel dianggap sebagai `data' yang representatif untuk menilai Gorontalo. Ditambah lagi kemampuan Walikota Medi, Bupati Bokings dan Bupati David yang mumpuni ketika berbicara mengenai daerahnya dalam diskusi atau seminar nasional.
Semua itu menjadi penyebab utama mengapa daerah-daerah lain mau studi banding dan belajar ke Gorontalo hampir dalam segala aspek. (Kalau studi banding ke Gorontalo, itu belajar. Kalau studi banding ke Batam, itu pasiar, bos...). Pertanyaannya, apakah mereka-mereka yang studi banding ke Gorontalo itu benar-benar menemukan sesuatu yang baru di Gorontalo? Apakah mereka benar-benar pulang dengan rasa puas yang dalam? Ataukah justru mereka kecewa setelah melihat keadaan Gorontalo yang tidak lebih baik dari daerahnya sendiri?
Saya pernah menemani seorang Guru Besar ilmu politik UGM selama lima hari di Gorontalo. Namanya juga profesor yang `unik', beliau suka berjalan sendiri mewawancarai masyarakat yang ditemuinya. Saya hanya bisa memandunya untuk bertemu beberapa pemimpin politik daerah. Sebelum pulang ke Jogya, beliau berkata, "Jujur saja, Gorontalo tidak sebaik yang saya lihat di media massa (nasional). Yah, ibarat gadis, daerah ini berdandan cantik luar biasa, kulitnya mulus, body-nya mantap... tapi punya komplikasi (penyakit) jantung, lever dan PMS... hahaha." Meski nadanya becanda, saya menangkap kata-kata itu sebagai sesuatu yang serius.
CITRA dan EKSISTENSI
Kalau saya berkata bahwa hari ini citra Gorontalo sedang memuncak, mungkin tidak ada yang dapat membantahnya—termasuk mereka-mereka yang selama ini kelewat kritis terhadap pemerintahan Fadel-Gusnar. Appearance, performance dan style Gubernur Fadel Muhammad menjadi simbol dari pencitraan Gorontalo tersebut.
Fadel menampakkan berbagai kelebihan di antara seluruh gubernur yang ada di republik ini—terutama kecerdasannya dalam public relations. Andaikata ada `Indonesian Idol' yang hanya diikuti oleh para gubernur, Fadel adalah unggulan pertama untuk jadi "The Idol".
Sudah barang tentu pula kehebatan Fadel berimbas positif terhadap citra Gorontalo. Pengalaman individual saya, dua minggu lalu, ketika berkenalan dengan para Indonesianist dari berbagai negara yang sedang berada di Jakarta adalah salah satu buktinya. "Gorontalo... led by Fadel Muhammad. Am I right? So you come from the best province of this country...," ungkap mereka sebagai pembuka perbincangan. Saya berterimakasih atas pandangan positif mereka terhadap daerah dimana saya dan nenek moyang saya lahir. Bangga saya.
Eksistensi Gorontalo di mata nasional yang sebelum ini hampir nol kini melonjak ke atas. Nama daerah saya bukan hanya tersimpan dalam kognisi orang-orang Indonesia, tetapi juga diingat oleh para aktifis di berbagai negara. Umumnya mereka memiliki rasa dan pandangan positif terhadap Gorontalo. Bandingkan dengan keadaan tahun 1999. Ketika itu saya pasiar ke kota-kota besar di Jawa dan Sumatera. Dan pertanyaan yang biasa saya dengar waktu itu adalah, "Gorontalo dimana ya? Sulawesi atau Kalimantan ya?".
Di samping itu, di mata para intelektual lokal di berbagai daerah di Indonesia, Gorontalo dianggap sebagai suatu daerah yang menerapkan pembangunan dengan ideal. Sebab, berkali-kali media massa nasional—yang mereka baca—mengulas sisi baik dari program Agropolitan-Jagung, ekonomi kerakyatan, pengelolaan keuangan dan sistem birokrasi provinsi Gorontalo. Tidak heran jika kemudian Gorontalo menjadi salah satu tujuan utama studi banding.
Pendek kata, hari ini Gorontalo sudah memperoleh kebutuhan eksistensialnya. Dibandingkan dengan provinsi-provinsi yang seumurannya, Gorontalo lebih dikenal secara merata di seluruh Indonesia. Artinya, dari sudut pandang kebutuhan eksistensial itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Provinsi Gorontalo sudah berhasil.
PENYAKIT
Citra yang baik tentu bukan satu-satunya ukuran keberhasilan, tentu saja. Kita juga mesti menyadari adanya fakta betapa masih banyak rakyat Gorontalo yang hidup di bawah garis kemiskinan. Betapa banyak anak-anak masa depan yang belum mampu untuk sekadar sekolah di SMP sekalipun. Kalau pun berstatus sebagai siswa, mayoritas anak-anak kita tidak terdidik dengan memadai.
Juga betapa semakin melebarnya jurang perbedaan antara anak-anak rakyat dan anak-anak elit daerah (pejabat eksekutif bertunjangan jabatan tinggi, anggota dewan, kontraktor dan pedagang besar). Pendidikan dan fasilitas pendidikan yang memadai—seperti SMU Cendekia dan SMU Wirabakti—hanya dimiliki anak-anak para elit, tidak oleh anak-anak rakyat.
Itulah penyakit kronis utama Gorontalo setelah lima tahun menjadi provinsi. Melebarnya jurang antara anak miskin dan anak kaya ibarat bibit-bibit penyakit `jantung' yang akan membunuh Gorontalo 10-20 tahun kedepan secara tiba-tiba.
Anak miskin akan tetap miskin ketika dia dewasa karena tidak terdidik, anak kaya akan tetap kaya di kemudian hari karena terdidik dengan baik. Ketika jumlah orang miskin+bodoh lebih banyak dari jumlah orang kaya+cerdas, di situlah bakal terjadi kerusuhan sosial yang bakal meluluhlantakkan segala sendi-sendi moral.
Di samping itu, korupsi, kolusi dan manipulasi yang dilakukan oleh para elit juga menggerogoti Gorontalo. Dia ibarat penyakit `lever' yang menyiksa dari hari ke hari dan hanya bisa hilang jika dilakukan operasi. Hari ini, pendapatan rakyat hanya meningkat sedikit dibanding sebelum provinsi.
Padahal, uang pembangunan Gorontalo 5 tahun lalu hanya berkisar Rp. 200 Milyar per tahun (anggaran Kabupaten Gorontalo, Boalemo, Kota Gorontalo, dan instansi-instansi struktural). Hari ini, uang pembangunan Gorontalo meningkat 10 kali lipat (karena otonomi daerah). Tetapi bagaimana dengan pendapatan rakyat? Adakah dia meningkat dua kali atau tiga kali lipat saja? Rupanya tidak.
Lalu kemana uang-uang yang datang dari Jakarta selama provinsi ini berdiri? Uang-uang itu pasti dikelola secara kolutif, korup dan manipulatif sehingga tidak mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat secara signifikan. Bahkan sebagian uang itu `pulang kampung' ke Jakarta.
Penyakit utama yang ketiga adalah kurangnya kesadaran moral para elit daerah. Di saat pembangunan sangat membutuhkan anggaran, contohnya, para kepala daerah, kepala dinas dan anggota dewan justru menggunakan uang itu untuk pelesir ke Batam (+ Singapura) dan yang terbanyak adalah menghabiskan SPPD (uang jalan) ke Jakarta tanpa membawa hasil yang signifikan bagi pembangunan rakyatnya.
Penyakit moral ini bisa diibaratkan dengan `PMS' yang dari waktu ke waktu akan membunuh produktifitas dan kreatifitas rakyat—karena akan ada anggapan bahwa "kalau ingin jadi orang kaya, cuma satu caranya: jadi anggota dewan (sebagai misal—red), tidak ada cara lain". Otak rakyat akan mengalami infertilitas (mandul)—mirip dengan akibat PMS beneran—karena ulah para elit daerah.
CITRA Vs. PENYAKIT
Menilai Gorontalo setelah lima tahun jadi provinsi dapat dilakukan, sedikitnya, menurut tiga cara. Pertama, menilainya dari citra dan eksistensi daerah saja. Kedua, menilai berdasarkan penyakit-penyakitnya saja. Ketiga, menilai berdasarkan citra dan penyakit secara berimbang.
Para pengguna cara pertama adalah mereka yang memiliki prinsip hidup "biar miskin asal sombong, biar kalah nasi asal jangan kalah aksi." Pengguna cara kedua adalah mereka yang hidup tanpa optimisme—dan karenanya keningnya selalu berkerut dan senyumnya sinis. Dunia seperti neraka bagi orang-orang yang disebut terakhir.
Karena itu saya memilih cara ketiga. Dengan berdasarkan uraian panjang di atas, saya juga ikut berkesimpulan bahwa ibarat gadis, Gorontalo kini berdandan cantik—membuat semua orang jatuh cinta pada pandang mata pertama, tetapi dia juga berpenyakit komplikasi jantung, lever dan PMS.
Namun seperti Tuhan bilang, tidak ada penyakit yang tak ada obatnya. Tiga penyakit utama Gorontalo itu masih dapat disembuhkan. Tinggal tergantung kepada seluruh rakyat daerah ini, apakah kita akan mencarikan `dokter baru' dan `obat baru' untuk menyembuhkan penyakit itu, ataukah kita mempertahankan dokternya dan hanya mengganti obatnya, ataukah kita memilih dokter yang dapat melakukan operasi penyembuhan tanpa menimbulkan luka yang merusak kecantikan Gorontalo.
Akhirnya, sebagai rakyat, saya ingin mengucapkan, "Selamat ulang tahun provinsi tercintaku yang cantik.... Semoga lekas sembuh....".
Monday, July 23, 2007
Talking' Bout Their Generation
Kathleen Holder
Posted by Amanda Katili, 18 Jan 2006
Wants to have fun and make a difference? Plays soccer, lacrosse, Wiffle ball and poker. Volunteers at a local homeless shelter and raises money for tsunami relief. Can talk urban slang like a hip-hop deejay and write fluently in text- messaging shorthand. Liberal to middle-of-the-road politically. Got As in high school but feels like an imposter in freshman honors class.
Goes home weekends. Calls parents on the cell phone between classes.
Today’s students tend to be pressured, achieving, plugged in to technology, multicultural, eager for extracurricular and community activities, anxious for clear rules and close to their parents, according to faculty, administrators, counselors, advisers and students themselves.
At UC Davis, like campuses nationwide, it’s the dawning of the age of the Millennial Generation. Born since 1982 to the smallest families in U.S. history, these students are also called Echo Boomers, Nexters and Generation Y. And they—and their Baby Boomer parents—are making their presence felt on campus in a big way.
“This is a generation that has a lot of attention paid to it by their parents and the national media,” said Bob Filipczak, co-author of two books on generational differences. “That’s partly because this is a huge generation: 76–79 million, compared to 59 million Generation X and 76 million Boomers.
“They are going to have as big an effect on our culture, our economy, as the Boomer generation—perhaps more so,” said Filipczak.
At UC Davis, they already are. The first Millennial Generation students started their freshman year in fall 2000. Achieving, group-oriented and stressed, they have been flocking to internships, student clubs, intramural sports and, more so for women than men, to the counseling center.
Tech-savvy, they sometimes fluster their professors with their ease with multi-tasking—laptops open, taking notes, instant messaging and e-mailing friends, and reading online news in class all at the same time. They may do more research at an Internet cafĂ© than in the library. And they let instructors know when they stray from course syllabi.
They are bright, but increasingly insecure. Two-thirds of freshmen in a recent survey earned A- to A+ grades in high school. Eight out of nine took Advanced Placement courses. But in recent surveys, fewer rate themselves above average for academic ability and emotional and physical well-being.
The campus, in recent years, has responded with new programs for both students and parents, including the award-winning Aggie Family Pack e-mail newsletter and the parent section of this magazine, organized recreational activities, online services and stress-reduction programs.
Administrators are also looking into ways to better help graduating seniors enter a work world that may not meet their high expectations.
A dozen campus officials recently attended a UC-wide retreat on strategies for serving the Millennial Generation, exchanging ideas for best meeting the needs of these students.
Of course, these are generalizations and at UC Davis a number of students don’t fit the Gen Y mold. They are not the offspring of affluent Baby Boomers, but come from immigrant families. Most of these students were born in the United States, but have at least one parent who immigrated here from another country—China, Mexico, Vietnam, Philippines and elsewhere around the world.
And while the number of students from rich, $200,000-a-year-plus-income families has increased slightly over a generation ago, the proportion whose parents earn less than $40,000 a year has doubled to 30 percent.
UC Davis students are multicultural and multiracial—even more so than their counterparts nationwide.
Though many students grew up in segregated neighborhoods, they are connected to the world in ways previous generations were not—via the Internet and the global beat of music, movies and cable television. Cultural distinctions seem to blur on campus, as students are exposed to new ideas—and to each other.
In dress, UC Davis students look a lot alike. They wear jeans, shorts, T-shirts, athletic shoes, flip-flop sandals—though, in “Aggie Style” profiles in the California Aggie, students say they spend from a few dollars to more than $800 on their outfits. Hairstyles tend to be less flashy. Mostly gone are the extreme hair and makeup colors, black “Goth” look, the punk spike and Mohawk hairstyles. Low-hanging “baggies” are less common. So too are platform and steel-toed boots.
Ask students what music they listen to, and they’re likely to say “All kinds” and list a wide array from ’70s rock and R&B to country, classical, jazz, hip-hop, rap and international pop.
Amidst conformity, they are each quite individual.
Wolfgang Rougle, a senior in international development who changed her first name in eighth grade in honor of physicist Wolfgang Pauli, said: “Kids my age don’t seem to feel they have to do something dramatic—like dye their hair green or listen to death metal—in order to be individual. Everyone believes that she’s special and unique just the way she is….
“I always was told I could be anything I wanted to be.”
Posted by Amanda Katili, 18 Jan 2006
Wants to have fun and make a difference? Plays soccer, lacrosse, Wiffle ball and poker. Volunteers at a local homeless shelter and raises money for tsunami relief. Can talk urban slang like a hip-hop deejay and write fluently in text- messaging shorthand. Liberal to middle-of-the-road politically. Got As in high school but feels like an imposter in freshman honors class.
Goes home weekends. Calls parents on the cell phone between classes.
Today’s students tend to be pressured, achieving, plugged in to technology, multicultural, eager for extracurricular and community activities, anxious for clear rules and close to their parents, according to faculty, administrators, counselors, advisers and students themselves.
At UC Davis, like campuses nationwide, it’s the dawning of the age of the Millennial Generation. Born since 1982 to the smallest families in U.S. history, these students are also called Echo Boomers, Nexters and Generation Y. And they—and their Baby Boomer parents—are making their presence felt on campus in a big way.
“This is a generation that has a lot of attention paid to it by their parents and the national media,” said Bob Filipczak, co-author of two books on generational differences. “That’s partly because this is a huge generation: 76–79 million, compared to 59 million Generation X and 76 million Boomers.
“They are going to have as big an effect on our culture, our economy, as the Boomer generation—perhaps more so,” said Filipczak.
At UC Davis, they already are. The first Millennial Generation students started their freshman year in fall 2000. Achieving, group-oriented and stressed, they have been flocking to internships, student clubs, intramural sports and, more so for women than men, to the counseling center.
Tech-savvy, they sometimes fluster their professors with their ease with multi-tasking—laptops open, taking notes, instant messaging and e-mailing friends, and reading online news in class all at the same time. They may do more research at an Internet cafĂ© than in the library. And they let instructors know when they stray from course syllabi.
They are bright, but increasingly insecure. Two-thirds of freshmen in a recent survey earned A- to A+ grades in high school. Eight out of nine took Advanced Placement courses. But in recent surveys, fewer rate themselves above average for academic ability and emotional and physical well-being.
The campus, in recent years, has responded with new programs for both students and parents, including the award-winning Aggie Family Pack e-mail newsletter and the parent section of this magazine, organized recreational activities, online services and stress-reduction programs.
Administrators are also looking into ways to better help graduating seniors enter a work world that may not meet their high expectations.
A dozen campus officials recently attended a UC-wide retreat on strategies for serving the Millennial Generation, exchanging ideas for best meeting the needs of these students.
Of course, these are generalizations and at UC Davis a number of students don’t fit the Gen Y mold. They are not the offspring of affluent Baby Boomers, but come from immigrant families. Most of these students were born in the United States, but have at least one parent who immigrated here from another country—China, Mexico, Vietnam, Philippines and elsewhere around the world.
And while the number of students from rich, $200,000-a-year-plus-income families has increased slightly over a generation ago, the proportion whose parents earn less than $40,000 a year has doubled to 30 percent.
UC Davis students are multicultural and multiracial—even more so than their counterparts nationwide.
Though many students grew up in segregated neighborhoods, they are connected to the world in ways previous generations were not—via the Internet and the global beat of music, movies and cable television. Cultural distinctions seem to blur on campus, as students are exposed to new ideas—and to each other.
In dress, UC Davis students look a lot alike. They wear jeans, shorts, T-shirts, athletic shoes, flip-flop sandals—though, in “Aggie Style” profiles in the California Aggie, students say they spend from a few dollars to more than $800 on their outfits. Hairstyles tend to be less flashy. Mostly gone are the extreme hair and makeup colors, black “Goth” look, the punk spike and Mohawk hairstyles. Low-hanging “baggies” are less common. So too are platform and steel-toed boots.
Ask students what music they listen to, and they’re likely to say “All kinds” and list a wide array from ’70s rock and R&B to country, classical, jazz, hip-hop, rap and international pop.
Amidst conformity, they are each quite individual.
Wolfgang Rougle, a senior in international development who changed her first name in eighth grade in honor of physicist Wolfgang Pauli, said: “Kids my age don’t seem to feel they have to do something dramatic—like dye their hair green or listen to death metal—in order to be individual. Everyone believes that she’s special and unique just the way she is….
“I always was told I could be anything I wanted to be.”
Eksistensi Risno Ahaya
Rahman Dako
17 Jan 2006
Syamsu dan teman-teman,
Risno Ahaya sangat "top" waktu ana SMP. Mungkin ente waktu itu masih SD atau mungkin masih TK, jadi lagunya mungkin masih Balonku Ada Lima, jadi ndak kanal pa te Risno dan Marlina Otoluwa, he....he.....
Banyak pegambus-pegambus kita yang meroket waktu itu karena pada saat bersamaan RRI menyelenggarakan kompetisi dana-dana selama 2 atau 3 tahun berturut-turut. Pegambus-pegambus dari mana-mana turun ikut kejuaraan. Itu juga didukung oleh Pemerintah yang memberi hadiah menjanjikan dan sampai membawa juaranya ke dapur rekaman. Kasetnya beredar dimana-mana. Merakyat.
Sekarang, memang Risno tetap eksis walaupun dia tinggal bakuti gambusi dari pasar ke pasar. Saya sering bakudapa dengan dia di pasar Talaga, juga pernah di Pasar Minggu di Duano.
Saya merindukan hal-hal seperti itu. Kita tidak pernah akan menjadi suku lain, mereplika bangsa lain, selain tetap menjadi diri kita sendiri. That's our identity, ya kan Dewi??? Walaupun ada budaya lain yang masuk, tetap kita punya ciri khas yang tidak mungkin sama dengan Barat atau budaya lain.
Saya iri dengan sendratari Randai dari Padang yang setiap 4 tahun rutin tampil memukau di Hawaii. Saya menonton pertunjukan mereka beberapa bulan lalu. Setiap penampilan mereka pasti dibanjiri penonton. Begitu pula penampilan cerita I La Galigo di Singapura dan New York beberapa waktu lalu. Musik tradisional Kakula dari suku Kaili Sulawesi Tengah baru-baru ini mengemparkan Honolulu dari beberapa seri rangkaian penampilan mereka. Meskipun pemrakarsanya kebanyakan orang Bule, tetapi tetap harus dimulai oleh orang kita sendiri. Musik dan kesenian alternatif menjadi sangat digemari belakangan ini karena kemuakan terhadap musik mainstream.
Nah, saya pikir hal-hal seperti ini untuk konteks Gorontalo BISA diciptakan dan dimulai lagi. Bagaimana Gorontalo Post, PROSES, Koran Gorontalo, dan teman-teman lain ? Siapa yang mau jadi sponsor?
17 Jan 2006
Syamsu dan teman-teman,
Risno Ahaya sangat "top" waktu ana SMP. Mungkin ente waktu itu masih SD atau mungkin masih TK, jadi lagunya mungkin masih Balonku Ada Lima, jadi ndak kanal pa te Risno dan Marlina Otoluwa, he....he.....
Banyak pegambus-pegambus kita yang meroket waktu itu karena pada saat bersamaan RRI menyelenggarakan kompetisi dana-dana selama 2 atau 3 tahun berturut-turut. Pegambus-pegambus dari mana-mana turun ikut kejuaraan. Itu juga didukung oleh Pemerintah yang memberi hadiah menjanjikan dan sampai membawa juaranya ke dapur rekaman. Kasetnya beredar dimana-mana. Merakyat.
Sekarang, memang Risno tetap eksis walaupun dia tinggal bakuti gambusi dari pasar ke pasar. Saya sering bakudapa dengan dia di pasar Talaga, juga pernah di Pasar Minggu di Duano.
Saya merindukan hal-hal seperti itu. Kita tidak pernah akan menjadi suku lain, mereplika bangsa lain, selain tetap menjadi diri kita sendiri. That's our identity, ya kan Dewi??? Walaupun ada budaya lain yang masuk, tetap kita punya ciri khas yang tidak mungkin sama dengan Barat atau budaya lain.
Saya iri dengan sendratari Randai dari Padang yang setiap 4 tahun rutin tampil memukau di Hawaii. Saya menonton pertunjukan mereka beberapa bulan lalu. Setiap penampilan mereka pasti dibanjiri penonton. Begitu pula penampilan cerita I La Galigo di Singapura dan New York beberapa waktu lalu. Musik tradisional Kakula dari suku Kaili Sulawesi Tengah baru-baru ini mengemparkan Honolulu dari beberapa seri rangkaian penampilan mereka. Meskipun pemrakarsanya kebanyakan orang Bule, tetapi tetap harus dimulai oleh orang kita sendiri. Musik dan kesenian alternatif menjadi sangat digemari belakangan ini karena kemuakan terhadap musik mainstream.
Nah, saya pikir hal-hal seperti ini untuk konteks Gorontalo BISA diciptakan dan dimulai lagi. Bagaimana Gorontalo Post, PROSES, Koran Gorontalo, dan teman-teman lain ? Siapa yang mau jadi sponsor?
Tingga Nanti te Padel yang... (2)
Catatan tambahan Elnino
14 Jan 2006
1. Disebut-sebut di berbagai media nasional—juga oleh beberapa elit politik Jakarta dalam diskusi-diskusi informal tapi serius—menjadi calon kuat menteri dalam reshuffle kabinet 6 Desember lalu meski pun dia sedang memegang jabatan gubernur. Nama Sutiyoso (Gubernur DKI) saja tidak pernah terdengar akan ditarik oleh presiden SBY menjadi menteri. Untuk lebih lengkapnya, lihat kembali artikel yang kami tulis di Gorontalo Post berjudul "Komunikasi Politik Pementerian Fadel" (26-27 Oktober 2005) dan "Masih Seputar Pementerian Fadel" (12 Desember 2005).
2. Sebulan setelah reshuffle kabinet (11 Januari 2006—sampai hari ini), menghebohkan publik Indonesia dengan menyatakan bahwa provinsinya menolak beras impor yang diprogramkan oleh pemerintah pusat (baca: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono). Bahkan dia menghimbau seluruh gubernur di republik ini memboikot beras impor yang akan disuplai ke daerah masing-masing. Untuk yang satu ini, saya hanya bisa berkomentar untuk Fadel: "Kampiooon....!!!" (Hurup "K"-nya jangan diganti dengan hurup "L" waa...). For the sake of the farmers, I'll go with you, Mr. Governor...
3. Tidak pernah mengerahkan preman-preman (jawara-jawara) kampungan meskipun dia merasa dizolimi. Kalau Fadel mencak-mencak, saya pernah mendengarnya. Tetapi sepanjang catatan empat tahun terakhir, semua pemimpin di Gorontalo (bahkan mungkin juga di Indonesia; Sutiyoso, misalnya) memiliki "pasukan rimba" yang bermoto "membela yang berkuasa". Pasukan semacam ini tega berbuat kerusakan di muka bumi ketika bosnya tersudut. Fadel? Dia tampaknya memilih `pake otak' ketimbang `pake otot'.
4. Menyapa orang dengan cara yang sangat akrab meski orang itu tidak dikenalnya. Seperti judul sinetron, sok kenal sok dekat (SKSD). Andai Anda laki-laki yang belum pernah bersua dengannya dan beroleh kesempatan pertama kalinya bertatapan muka dengannya, maka yang akan Anda terima adalah senyum akrab dibarengi kalimat, "Hai... apa kabar.... lama nggak ketemu.... kemana aja...". Tangan Anda akan dijabatnya dengan erat, bahu Anda akan ditepuk atau dielus sekurang-kurangnya dua kali.
5. Hampir setiap hari mendapatkan `pembelaan' dari media cetak lokal, khususnya Gorontalo Post dan PROSES. Saya pribadi menerima keluhan dari berbagai aktifis kampus (dosen dan mahasiswa) sebab komentar dan tulisan mereka yang mengkritik kebijakan Fadel tidak mendapat ruang di dua koran ini. "Selalu saja ngoni (wartawan) pe jawaban; te bos (pimpinan) tida suka yang bagitu...," ungkap beberapa teman aktifis. Bahkan syahidnya Sutanto Rauf (seorang sahabat wartawan PROSES) setelah mengalami kecelakaan di jalan yang menuju kantor Gubernur—yang dibangun Fadel di atas penggalan gunung itu—tidak mengubah agenda setting koran-koran milik Jawa Pos ini. Bahkan lagi, PROSES memberi penghargan "Man of The Year" untuk Fadel di tahun syahidnya Tanto (wartawan Proses/Tribun yang meninggal kecelakaan di tanjakan menuju kantor Gubernur yang dibangun Fadel)!
6. Memiliki kemampuan oral dan menulis sama baiknya. Jangankan wakil gubernur, bupati atau walikota di Gorontalo.... andai bergabung pun, rektor-rektor di Gorontalo belum tentu mampu menghasilkan tulisan sebaik Fadel!! Salah satu karya tulis terbaik Fadel berjudul "Competitive Advantages Agroindustri Indonesia" yang dipaparkannya dalam orasi ilmiah di Universitas Indonesia (1999). Untuk yang satu ini, saya memperkirakan bahwa bagusnya tulisan-tulisan Fadel tidak lepas dari `bantuan kecerdasan' dari partnernya waktu itu; Suharso Monoarfa. Baca pula bagaimana karya-karya tulis Fadel yang dimuat oleh Kompas, Media Indonesia dan Republika.
7. Berbicara selalu dengan argumentasi ilmiah dan logis bagi sebagian besar masyarakat (yaitu mereka yang tidak termasuk aktifis aliran kritis). Bandingkan dengan pimpinan-pimpinan Gorontalo lainnya yang kerap tampil dengan argumentasi bernada prokololo dan tidak masuk akal. Artinya, jikalau Fadel itu bukan pemimpin yang jujur, maka dialah pemimpin yang paling sulit ketahuan bohongnya.###
14 Jan 2006
1. Disebut-sebut di berbagai media nasional—juga oleh beberapa elit politik Jakarta dalam diskusi-diskusi informal tapi serius—menjadi calon kuat menteri dalam reshuffle kabinet 6 Desember lalu meski pun dia sedang memegang jabatan gubernur. Nama Sutiyoso (Gubernur DKI) saja tidak pernah terdengar akan ditarik oleh presiden SBY menjadi menteri. Untuk lebih lengkapnya, lihat kembali artikel yang kami tulis di Gorontalo Post berjudul "Komunikasi Politik Pementerian Fadel" (26-27 Oktober 2005) dan "Masih Seputar Pementerian Fadel" (12 Desember 2005).
2. Sebulan setelah reshuffle kabinet (11 Januari 2006—sampai hari ini), menghebohkan publik Indonesia dengan menyatakan bahwa provinsinya menolak beras impor yang diprogramkan oleh pemerintah pusat (baca: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono). Bahkan dia menghimbau seluruh gubernur di republik ini memboikot beras impor yang akan disuplai ke daerah masing-masing. Untuk yang satu ini, saya hanya bisa berkomentar untuk Fadel: "Kampiooon....!!!" (Hurup "K"-nya jangan diganti dengan hurup "L" waa...). For the sake of the farmers, I'll go with you, Mr. Governor...
3. Tidak pernah mengerahkan preman-preman (jawara-jawara) kampungan meskipun dia merasa dizolimi. Kalau Fadel mencak-mencak, saya pernah mendengarnya. Tetapi sepanjang catatan empat tahun terakhir, semua pemimpin di Gorontalo (bahkan mungkin juga di Indonesia; Sutiyoso, misalnya) memiliki "pasukan rimba" yang bermoto "membela yang berkuasa". Pasukan semacam ini tega berbuat kerusakan di muka bumi ketika bosnya tersudut. Fadel? Dia tampaknya memilih `pake otak' ketimbang `pake otot'.
4. Menyapa orang dengan cara yang sangat akrab meski orang itu tidak dikenalnya. Seperti judul sinetron, sok kenal sok dekat (SKSD). Andai Anda laki-laki yang belum pernah bersua dengannya dan beroleh kesempatan pertama kalinya bertatapan muka dengannya, maka yang akan Anda terima adalah senyum akrab dibarengi kalimat, "Hai... apa kabar.... lama nggak ketemu.... kemana aja...". Tangan Anda akan dijabatnya dengan erat, bahu Anda akan ditepuk atau dielus sekurang-kurangnya dua kali.
5. Hampir setiap hari mendapatkan `pembelaan' dari media cetak lokal, khususnya Gorontalo Post dan PROSES. Saya pribadi menerima keluhan dari berbagai aktifis kampus (dosen dan mahasiswa) sebab komentar dan tulisan mereka yang mengkritik kebijakan Fadel tidak mendapat ruang di dua koran ini. "Selalu saja ngoni (wartawan) pe jawaban; te bos (pimpinan) tida suka yang bagitu...," ungkap beberapa teman aktifis. Bahkan syahidnya Sutanto Rauf (seorang sahabat wartawan PROSES) setelah mengalami kecelakaan di jalan yang menuju kantor Gubernur—yang dibangun Fadel di atas penggalan gunung itu—tidak mengubah agenda setting koran-koran milik Jawa Pos ini. Bahkan lagi, PROSES memberi penghargan "Man of The Year" untuk Fadel di tahun syahidnya Tanto (wartawan Proses/Tribun yang meninggal kecelakaan di tanjakan menuju kantor Gubernur yang dibangun Fadel)!
6. Memiliki kemampuan oral dan menulis sama baiknya. Jangankan wakil gubernur, bupati atau walikota di Gorontalo.... andai bergabung pun, rektor-rektor di Gorontalo belum tentu mampu menghasilkan tulisan sebaik Fadel!! Salah satu karya tulis terbaik Fadel berjudul "Competitive Advantages Agroindustri Indonesia" yang dipaparkannya dalam orasi ilmiah di Universitas Indonesia (1999). Untuk yang satu ini, saya memperkirakan bahwa bagusnya tulisan-tulisan Fadel tidak lepas dari `bantuan kecerdasan' dari partnernya waktu itu; Suharso Monoarfa. Baca pula bagaimana karya-karya tulis Fadel yang dimuat oleh Kompas, Media Indonesia dan Republika.
7. Berbicara selalu dengan argumentasi ilmiah dan logis bagi sebagian besar masyarakat (yaitu mereka yang tidak termasuk aktifis aliran kritis). Bandingkan dengan pimpinan-pimpinan Gorontalo lainnya yang kerap tampil dengan argumentasi bernada prokololo dan tidak masuk akal. Artinya, jikalau Fadel itu bukan pemimpin yang jujur, maka dialah pemimpin yang paling sulit ketahuan bohongnya.###
Tingga Nanti te Padel yang... (1)
Catatan Elnino
11 Jan 2006
1. Jadi gubernur di daerah yang tidak pernah dia tinggali sebelumnya. Yang pernah tinggal di Gorontalo kan adalah orang tuanya. Kondisi ini mirip dengan Rachmat Gobel. Bedanya, (mungkin) karena Rachmat bermarga Gobel, dia sering pulang kampung ke Gorontalo. Nah, sebelum jadi gubernur Gorontalo, kemana Fadel pulang kampung? Ternate? Palu? Jawa Timur?
2. Jadi gubernur meski telah divonis pailit oleh pengadilan. Persoalan yang satu ini sudah tak jelas lagi sekarang, apakah dia masih berstatus pailit atau tidak lagi. Ketika menjadi calon gubernur, 2001, dia melaporkan kekayaan milik pribadi senilai Rp.100 miliar lebih. Pendek kata, pailit tapi debo kaya. Jadi gubernur pula.
3. Empat tahun `dikerjai' oleh partai yang memilihnya jadi gubernur. Setelah dipilih oleh 25 anggota DPRD Fraksi Golkar ditambah 1 suara PAN dan 1 suara PBB, Fadel menang. Dan setelah itu dia selalu dipusingkan oleh Partai Golkar pimpinan Achmad Pakaya yang kerap tampil terlalu kritis lewat dua `juru bicara'nya; Rustam Akili dan Budiyanto Napu. Golkar baru bisa `dijinakkan' oleh Fadel setelah Pakaya lengser dari Ketua Golkar Gorontalo, 2005 lalu.
4. Pake istilah keren `agropolitan' meski pun hakikatnya sama dengan visi-misi kepala daerah di seluruh Indonesia. Agropolitan pada hakikatnya adalah pembangunan masyarakat pertanian. Sepertinya semua presiden, gubernur dan bupati di Indonesia ini memang selalu mengedepankan pertanian di setiap programnya (yang kebanyakan gagal itu). Namun, meski punya program yang sama saja dengan gubernur/bupati lain, Fadel tampil lebih cool dengan istilah agropolitannya.
5. Sarjana (bo insinyur—red) yang menjadi `guru' bagi para doktor, MM,MBA, M.Hum, dll. Fadel sering `mendidik' setidaknya 1 wakil gubernur bergelar MM, tiga kepala dinas bertitel doktor, dan sejumlah Kadis, Karo, Kasubdin, Pimpro, dll yang juga bergelar master. Jelas sudah, Fadel membuktikan bahwa gelar akademik bukanlah `standar keterdidikan', apalagi gelar MM, MBA dan doktor yang diperoleh setelah kuliah selama tiga bulan setiap sabtu dan minggu—masing-masing satu setengah jam per course. (Apalagi yang berembel-embel humoris causa...!!)
6. Lebih banyak disukai perempuan di seluruh Indonesia karena gantengnya ketimbang karena programnya. Saya berani bertaruh, 99 persen perempuan—baik di Gorontalo atau di luar daerah—menyukai Fadel karena terpesona appearance dan performance personalnya. Mungkin hanya Prof. Dr. Winarni Monoarfa perempuan yang terkesan dengan program Fadel. Itu juga karena dia kepala dinas, hahaha!
7. `Menggergaji' sebuah gunung untuk membangun kantor Gubernur di atasnya. Kata-kata apalagi yang bisa menjelaskan `keunikan' Fadel yang satu ini? Mungkin kita dapat meminjam istilah yang dipakai salah satu produk minuman energi: "You uedan, man....!!"
8. Sering melaksanakan even-even nasional di daerahnya supaya rakyat semakin lupa untuk mengkritik program (baca: janji) pokoknya sebagai gubernur. Even-even itu seperti Hari Keluarga Nasional, Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Nasional, dan sejumlah konser yang mendatangkan artis maupun da'i-selebriti. Beberapa di antara artis itu bahkan tampil oke untuk sekadar mengencangkan urat-urat lelaki. Saya sih asyik aja...
9. Meminta penyelenggaraan Harganas di daerahnya ketika even itu ditolak oleh banyak daerah karena dianggap menguras APBD. Fadel sendiri yang meminta daerahnya menjadi pelaksana Harganas ketika Presiden Megawati sedang bingung menawar-nawarkan kegiatan ini kepada gubernur-gubernur yang lain. Cerdiknya Fadel, uang rakyat yang habis untuk Harganas—meski termasuk besar untuk daerah miskin seperti Gorontalo—tidak sebesar yang diperkirakan gubernur-gubernur lainnya.
10. Meminta Menteri Agama (2003) untuk mencanangkan daerahnya sebagai Pusat Kebudayaan Islam (PKI) di Indonesia Timur meski masih banyak daerah yang lebih Islami di luar daerahnya. Ini sebetulnya `cara' yang bagus dalam melakukan `reislamisasi' orang-orang Gorontalo. Sayang, tidak ada tindak lanjut yang konkrit dan signifikan untuk membangun citra PKI tersebut.
11. Menyelenggarakan dengan baik STQ Nasional hanya dengan anggaran Rp.6 milyar. Itu dia lakukan di saat Menteri Agama RI (2005) berencana menghapuskan STQN karena masalah dana. (Peran Wagub Gusnar Ismail dan Penjabat Bupati Gorontalo Idris Rahim memang cukup besar dalam melakukan efisiensi disini). Bandingkan dengan Banten yang berancang-ancang menghabiskan Rp.10 Milyar untuk even yang sama. Bandingkan pula dengan Sulawesi Tenggara yang merencanakan Rp.100 Milyar untuk pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN = setingkat lebih `rame' ketimbang STQN)
12. Gubernur di Indonesia Timur yang disukai wartawan lokal maupun nasional karena keahliannya dalam berbicara dan `kedermawanannya' kepada makhluk-makhluk pers itu. Soal ini, saya hanya ingin mengatakan satu hal; hanya sedikit wartawan yang pernah menolak pemberian Fadel... hanya sedikit... (Kalau nggak percaya, tanya jo pa sekprinya, Erman Baga atau orang dekatnya, Ka Lukman.... Mudah-mudahan di milis ini ka Lukman bisa menjelaskan berapa saja yang pernah saya dan teman2 wartawan lainnya di Gorontalo terima dari Fadel)
13. Berpidato di hadapan rakyatnya bagaikan Guru TK di hadapan murid-muridnya. Bikin rakyatnya terpesona mengangguk-angguk setuju ketika dia berpidato meski terkadang ada unsur distorsi statistik dalam pidatonya itu. Untuk yang ini, Herdiyanto Yusuf pernah menjelaskannya dengan lugas dalam sebuah ulasan di Gorontalo Post dengan judul "Fadel dan Genre Baru Komunikasi Politik". Yanto memperhatikan kalimat-kalimat Fadel ketika bicara di depan para petani;
"Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara.... Kemarin bapak Gubernur dipanggil sama Presiden. Presiden bilang sama bapak Gubernur, "Del... apa saja kekurangan rakyatmu?"... Pak Gubernur jawab, "Pak presiden, rakyat saya butuh sekolah... dst...dst...dst..."
14. Dipuja-puja oleh ketua DPRD-nya. Mungkin di antara seluruh ketua DPRD Provinsi di republik ini, hanya pak Amir Piola Isa yang ngefans berat sama gubernurnya.
15. Dipandang sangat miring oleh rakyatnya sendiri yang sedang merantau di ibukota negara. Buktinya, tidak sedikit komentar dari orang-orang (untuk tidak menyebut oknum-oknum) LAMAHU Jakarta yang selalu diawali dengan kalimat, "So apa so te Padel itu??!"
16. Gubernur yang menjadi `anak bupati'. Dia diberi gelar adat "Tapulu Lo Madala" (Pangeran Negeri). Jauh hari sebelumnya, Bupati Boalemo Iwan Bokings dianugerahi gelar "Ta'uwa Lo Madala" (Raja Negeri). Berarti Gubernur adalah `anak bupati' dalam perspektif adat. Artinya, namanya juga anak, dia tidak boleh `kurang ajar' atau `melangkahi' bapaknya supaya tidak kena kutukan (biito). Tapi di jaman sekarang ini, kutukan tidak pengaruh lagi karena yang mengutuk pun pantas dikutuk.
17. Dikagumi sekaligus dihujat secara ekstrim oleh rakyatnya sendiri. Ada ratusan SMS yang dimuat Gorontalo Post berintikan `segala puji bagi Fadel'. Bahkan ada anggota DPRD Provinsi (2002) yang menulis opini di G-Post dengan judul "Fadel Pembawa Nur Keselamatan bagi Gorontalo". Di sisi lain, ada pula yang menghujat Fadel secara keterlaluan. Beberapa bulan lalu G-Post memuat sebuah SMS yang mengata-ngatai Fadel, ".... Pate lo Arabi mohimbulowa" (kalau tidak salah, begitulah bunyinya).
18. Bikin Etalase Perikanan yang Etalase sebuah Toko pun masih lebih baik dari itu. Etalase perikanan ini dicanangkan oleh Menteri Kelautan (2002?) yang `bekas-bekas'nya masih dapat dilihat dari perumahan nelayan di Boalemo. (Maaf, data soal ini saya kurang)
19. Tidak ingin (bukan menolak) IKIP di daerahnya jadi universitas. Di saat Nelson dkk dari IKIP Negeri Gorontalo sedang euforia demi `meningkatkan status' lembaganya dengan dukungan resmi dari seluruh DPRD Prov/Kab/Kota, Fadel malah berkata, "Menurut saya, IKIP kita tidak perlu jadi universitas... Biarlah kita tetap IKIP dan menjadikan `mencetak tenaga pendidik yang berkualitas' sebagai core competence kita." Dia lalu mengutip teori Comparative Advantages-nya David Ricardo dan teori Competitive Advantage-nya Michael Porter. Dalam hal ini, Fadel benar. Lihatlah sekarang, tidak sedikit profesor yang berkomentar di Kompas, Media Indonesia, Metro-TV dan berbagai seminar yang mengusulkan agar `Universitas bekas IKIP' tetap menjadikan `ilmu pendidikan' sebagai core competence-nya.
20. Jatuh pingsan ketika mengatasi unjuk rasa mahasiswa. Ini terjadi ketika dia mencoba meredam amarah mahasiswa UNG yang ingin menyerang rumah Medi Botutihe (2 Desember 2004).
21. Membuat presiden Zambia (Afrika) mampir ke daerahnya. Si presiden itu ingin studi banding dan melihat percontohan jagung di Gorontalo. (Perasaan.... siapa pun yang ingin studi banding Jagung, pasti ke lahan percontohan di Tenilo. Sedikit-sedikit, Tenilo.... Sedikit-sedikit, Tenilo... Jangan-jangan lahan jagung di luar Tenilo tidak pantas dicontoh.)
22. Tampil menjadi khotib dan Imam sholat Idul Fitri lebih baik dari ustadz-ustadz yang ada di daerahnya. Ini tidak perlu penjelasan lagi. Entah Fadel yang hebat, entah ustadz-ustadz itu yang payah.
23. Jadi gubernur selama hampir lima tahun dan tidak pernah membangun rumah pribadi di daerah yang diperintahnya. Meniru sebuah lagu dangdut yang dinyanyikan pelantun Dayu AG, saya ingin bersenandung, "Kalau memang dia... bikin rumah di sana... Tunjukkan padaku... dimana pondasinya..."
24. Mencanangkan pembangunan kualitas SDM, tetapi (enam) pegawainya yang kuliah S2 di Jogya (UII) berada dalam keadaan yang `pantas dapat BLT'. Padahal, dia sendiri sering bolak-balik ke Jogya (UGM) untuk studi S-3. Begitulah nasib orang-orang Pemprov... Kuliah di kota yang sama, tapi masalah perut tetap berbeda.
25. Menjadi calon gubernur terkuat (2006-2011)—setidaknya menurut hasil survey LSI—meski sudah ada 24 catatan di atas.***
11 Jan 2006
1. Jadi gubernur di daerah yang tidak pernah dia tinggali sebelumnya. Yang pernah tinggal di Gorontalo kan adalah orang tuanya. Kondisi ini mirip dengan Rachmat Gobel. Bedanya, (mungkin) karena Rachmat bermarga Gobel, dia sering pulang kampung ke Gorontalo. Nah, sebelum jadi gubernur Gorontalo, kemana Fadel pulang kampung? Ternate? Palu? Jawa Timur?
2. Jadi gubernur meski telah divonis pailit oleh pengadilan. Persoalan yang satu ini sudah tak jelas lagi sekarang, apakah dia masih berstatus pailit atau tidak lagi. Ketika menjadi calon gubernur, 2001, dia melaporkan kekayaan milik pribadi senilai Rp.100 miliar lebih. Pendek kata, pailit tapi debo kaya. Jadi gubernur pula.
3. Empat tahun `dikerjai' oleh partai yang memilihnya jadi gubernur. Setelah dipilih oleh 25 anggota DPRD Fraksi Golkar ditambah 1 suara PAN dan 1 suara PBB, Fadel menang. Dan setelah itu dia selalu dipusingkan oleh Partai Golkar pimpinan Achmad Pakaya yang kerap tampil terlalu kritis lewat dua `juru bicara'nya; Rustam Akili dan Budiyanto Napu. Golkar baru bisa `dijinakkan' oleh Fadel setelah Pakaya lengser dari Ketua Golkar Gorontalo, 2005 lalu.
4. Pake istilah keren `agropolitan' meski pun hakikatnya sama dengan visi-misi kepala daerah di seluruh Indonesia. Agropolitan pada hakikatnya adalah pembangunan masyarakat pertanian. Sepertinya semua presiden, gubernur dan bupati di Indonesia ini memang selalu mengedepankan pertanian di setiap programnya (yang kebanyakan gagal itu). Namun, meski punya program yang sama saja dengan gubernur/bupati lain, Fadel tampil lebih cool dengan istilah agropolitannya.
5. Sarjana (bo insinyur—red) yang menjadi `guru' bagi para doktor, MM,MBA, M.Hum, dll. Fadel sering `mendidik' setidaknya 1 wakil gubernur bergelar MM, tiga kepala dinas bertitel doktor, dan sejumlah Kadis, Karo, Kasubdin, Pimpro, dll yang juga bergelar master. Jelas sudah, Fadel membuktikan bahwa gelar akademik bukanlah `standar keterdidikan', apalagi gelar MM, MBA dan doktor yang diperoleh setelah kuliah selama tiga bulan setiap sabtu dan minggu—masing-masing satu setengah jam per course. (Apalagi yang berembel-embel humoris causa...!!)
6. Lebih banyak disukai perempuan di seluruh Indonesia karena gantengnya ketimbang karena programnya. Saya berani bertaruh, 99 persen perempuan—baik di Gorontalo atau di luar daerah—menyukai Fadel karena terpesona appearance dan performance personalnya. Mungkin hanya Prof. Dr. Winarni Monoarfa perempuan yang terkesan dengan program Fadel. Itu juga karena dia kepala dinas, hahaha!
7. `Menggergaji' sebuah gunung untuk membangun kantor Gubernur di atasnya. Kata-kata apalagi yang bisa menjelaskan `keunikan' Fadel yang satu ini? Mungkin kita dapat meminjam istilah yang dipakai salah satu produk minuman energi: "You uedan, man....!!"
8. Sering melaksanakan even-even nasional di daerahnya supaya rakyat semakin lupa untuk mengkritik program (baca: janji) pokoknya sebagai gubernur. Even-even itu seperti Hari Keluarga Nasional, Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Nasional, dan sejumlah konser yang mendatangkan artis maupun da'i-selebriti. Beberapa di antara artis itu bahkan tampil oke untuk sekadar mengencangkan urat-urat lelaki. Saya sih asyik aja...
9. Meminta penyelenggaraan Harganas di daerahnya ketika even itu ditolak oleh banyak daerah karena dianggap menguras APBD. Fadel sendiri yang meminta daerahnya menjadi pelaksana Harganas ketika Presiden Megawati sedang bingung menawar-nawarkan kegiatan ini kepada gubernur-gubernur yang lain. Cerdiknya Fadel, uang rakyat yang habis untuk Harganas—meski termasuk besar untuk daerah miskin seperti Gorontalo—tidak sebesar yang diperkirakan gubernur-gubernur lainnya.
10. Meminta Menteri Agama (2003) untuk mencanangkan daerahnya sebagai Pusat Kebudayaan Islam (PKI) di Indonesia Timur meski masih banyak daerah yang lebih Islami di luar daerahnya. Ini sebetulnya `cara' yang bagus dalam melakukan `reislamisasi' orang-orang Gorontalo. Sayang, tidak ada tindak lanjut yang konkrit dan signifikan untuk membangun citra PKI tersebut.
11. Menyelenggarakan dengan baik STQ Nasional hanya dengan anggaran Rp.6 milyar. Itu dia lakukan di saat Menteri Agama RI (2005) berencana menghapuskan STQN karena masalah dana. (Peran Wagub Gusnar Ismail dan Penjabat Bupati Gorontalo Idris Rahim memang cukup besar dalam melakukan efisiensi disini). Bandingkan dengan Banten yang berancang-ancang menghabiskan Rp.10 Milyar untuk even yang sama. Bandingkan pula dengan Sulawesi Tenggara yang merencanakan Rp.100 Milyar untuk pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN = setingkat lebih `rame' ketimbang STQN)
12. Gubernur di Indonesia Timur yang disukai wartawan lokal maupun nasional karena keahliannya dalam berbicara dan `kedermawanannya' kepada makhluk-makhluk pers itu. Soal ini, saya hanya ingin mengatakan satu hal; hanya sedikit wartawan yang pernah menolak pemberian Fadel... hanya sedikit... (Kalau nggak percaya, tanya jo pa sekprinya, Erman Baga atau orang dekatnya, Ka Lukman.... Mudah-mudahan di milis ini ka Lukman bisa menjelaskan berapa saja yang pernah saya dan teman2 wartawan lainnya di Gorontalo terima dari Fadel)
13. Berpidato di hadapan rakyatnya bagaikan Guru TK di hadapan murid-muridnya. Bikin rakyatnya terpesona mengangguk-angguk setuju ketika dia berpidato meski terkadang ada unsur distorsi statistik dalam pidatonya itu. Untuk yang ini, Herdiyanto Yusuf pernah menjelaskannya dengan lugas dalam sebuah ulasan di Gorontalo Post dengan judul "Fadel dan Genre Baru Komunikasi Politik". Yanto memperhatikan kalimat-kalimat Fadel ketika bicara di depan para petani;
"Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara.... Kemarin bapak Gubernur dipanggil sama Presiden. Presiden bilang sama bapak Gubernur, "Del... apa saja kekurangan rakyatmu?"... Pak Gubernur jawab, "Pak presiden, rakyat saya butuh sekolah... dst...dst...dst..."
14. Dipuja-puja oleh ketua DPRD-nya. Mungkin di antara seluruh ketua DPRD Provinsi di republik ini, hanya pak Amir Piola Isa yang ngefans berat sama gubernurnya.
15. Dipandang sangat miring oleh rakyatnya sendiri yang sedang merantau di ibukota negara. Buktinya, tidak sedikit komentar dari orang-orang (untuk tidak menyebut oknum-oknum) LAMAHU Jakarta yang selalu diawali dengan kalimat, "So apa so te Padel itu??!"
16. Gubernur yang menjadi `anak bupati'. Dia diberi gelar adat "Tapulu Lo Madala" (Pangeran Negeri). Jauh hari sebelumnya, Bupati Boalemo Iwan Bokings dianugerahi gelar "Ta'uwa Lo Madala" (Raja Negeri). Berarti Gubernur adalah `anak bupati' dalam perspektif adat. Artinya, namanya juga anak, dia tidak boleh `kurang ajar' atau `melangkahi' bapaknya supaya tidak kena kutukan (biito). Tapi di jaman sekarang ini, kutukan tidak pengaruh lagi karena yang mengutuk pun pantas dikutuk.
17. Dikagumi sekaligus dihujat secara ekstrim oleh rakyatnya sendiri. Ada ratusan SMS yang dimuat Gorontalo Post berintikan `segala puji bagi Fadel'. Bahkan ada anggota DPRD Provinsi (2002) yang menulis opini di G-Post dengan judul "Fadel Pembawa Nur Keselamatan bagi Gorontalo". Di sisi lain, ada pula yang menghujat Fadel secara keterlaluan. Beberapa bulan lalu G-Post memuat sebuah SMS yang mengata-ngatai Fadel, ".... Pate lo Arabi mohimbulowa" (kalau tidak salah, begitulah bunyinya).
18. Bikin Etalase Perikanan yang Etalase sebuah Toko pun masih lebih baik dari itu. Etalase perikanan ini dicanangkan oleh Menteri Kelautan (2002?) yang `bekas-bekas'nya masih dapat dilihat dari perumahan nelayan di Boalemo. (Maaf, data soal ini saya kurang)
19. Tidak ingin (bukan menolak) IKIP di daerahnya jadi universitas. Di saat Nelson dkk dari IKIP Negeri Gorontalo sedang euforia demi `meningkatkan status' lembaganya dengan dukungan resmi dari seluruh DPRD Prov/Kab/Kota, Fadel malah berkata, "Menurut saya, IKIP kita tidak perlu jadi universitas... Biarlah kita tetap IKIP dan menjadikan `mencetak tenaga pendidik yang berkualitas' sebagai core competence kita." Dia lalu mengutip teori Comparative Advantages-nya David Ricardo dan teori Competitive Advantage-nya Michael Porter. Dalam hal ini, Fadel benar. Lihatlah sekarang, tidak sedikit profesor yang berkomentar di Kompas, Media Indonesia, Metro-TV dan berbagai seminar yang mengusulkan agar `Universitas bekas IKIP' tetap menjadikan `ilmu pendidikan' sebagai core competence-nya.
20. Jatuh pingsan ketika mengatasi unjuk rasa mahasiswa. Ini terjadi ketika dia mencoba meredam amarah mahasiswa UNG yang ingin menyerang rumah Medi Botutihe (2 Desember 2004).
21. Membuat presiden Zambia (Afrika) mampir ke daerahnya. Si presiden itu ingin studi banding dan melihat percontohan jagung di Gorontalo. (Perasaan.... siapa pun yang ingin studi banding Jagung, pasti ke lahan percontohan di Tenilo. Sedikit-sedikit, Tenilo.... Sedikit-sedikit, Tenilo... Jangan-jangan lahan jagung di luar Tenilo tidak pantas dicontoh.)
22. Tampil menjadi khotib dan Imam sholat Idul Fitri lebih baik dari ustadz-ustadz yang ada di daerahnya. Ini tidak perlu penjelasan lagi. Entah Fadel yang hebat, entah ustadz-ustadz itu yang payah.
23. Jadi gubernur selama hampir lima tahun dan tidak pernah membangun rumah pribadi di daerah yang diperintahnya. Meniru sebuah lagu dangdut yang dinyanyikan pelantun Dayu AG, saya ingin bersenandung, "Kalau memang dia... bikin rumah di sana... Tunjukkan padaku... dimana pondasinya..."
24. Mencanangkan pembangunan kualitas SDM, tetapi (enam) pegawainya yang kuliah S2 di Jogya (UII) berada dalam keadaan yang `pantas dapat BLT'. Padahal, dia sendiri sering bolak-balik ke Jogya (UGM) untuk studi S-3. Begitulah nasib orang-orang Pemprov... Kuliah di kota yang sama, tapi masalah perut tetap berbeda.
25. Menjadi calon gubernur terkuat (2006-2011)—setidaknya menurut hasil survey LSI—meski sudah ada 24 catatan di atas.***
Teknologi, UNG, dan Tambang Rakyat
Bakrie Arbie,
28 Des 2005
Ysh rekan-rekan yang berminat tentang lingkungan.
Berdasarkan data-data dari daerah lain yang terdapat tambang emas ternyata cara yang dilakukan oleh tambang rakyat mempunyai potensi untuk pencemaran lingkungan terutama oleh penggunaan air-raksa(mercury). Mohon kepada yang berminat dapat dicari data berapa kilogram air raksa yang dilepas ke lingkungan setiap minggu atau bulan di daerah tambang dan sekitarnya.
Saya pernah berbicara dengan pihak dinas pertambangan Gorontalo untuk memberikan teknologi daur ulang dari air raksa sehingga dapat dipakai berulang dan tidak terbuang ke lingkungan, tetapi ada masalahperizinan. Dinas tak dapat proaktif untuk memberikan teknologi pada usaha yang tak berizin resmi.
Oleh karenanya salah satu peneliti BATAN, yaitu Dr.Sofyan Yatim, menyerahkan prototipe dan cara bekerjanya pada seorang ibu pengamat lingkungan yang saat itu aktif di IKIP Gorontalo. Usul kami saat itu adalah untuk diperkenalkan kepada para penambang rakyat di Gorontalo dan dibuat oleh bengkel di Gorontalo agar bisa jadi usaha yang dapat tumbuh seperti bentor (yang saya dengar sudah ke beberapa propinsi).
Sebab, teknologi yang diberikan akan mencegah lepasnya air raksa ke lingkungan dan berarti penghematan biaya produksi mestinya akan menarik para penambang rakyat dari daerah lain. Selain teknologi proses daur ulang, BATAN juga memberikan bibit padi unggul yang mempunyai kapasitas produksi hingga 8 ton/ha (tingkat kebun percobaan malah bisa 10 ton/ha) dan teknologi pakan ternak untuk mempercepat penggemukan sapi.
Semoga usaha tersebut dapat dilanjutkan para sukarelawan yangberminat.
Majulah Gorontalo.
28 Des 2005
Ysh rekan-rekan yang berminat tentang lingkungan.
Berdasarkan data-data dari daerah lain yang terdapat tambang emas ternyata cara yang dilakukan oleh tambang rakyat mempunyai potensi untuk pencemaran lingkungan terutama oleh penggunaan air-raksa(mercury). Mohon kepada yang berminat dapat dicari data berapa kilogram air raksa yang dilepas ke lingkungan setiap minggu atau bulan di daerah tambang dan sekitarnya.
Saya pernah berbicara dengan pihak dinas pertambangan Gorontalo untuk memberikan teknologi daur ulang dari air raksa sehingga dapat dipakai berulang dan tidak terbuang ke lingkungan, tetapi ada masalahperizinan. Dinas tak dapat proaktif untuk memberikan teknologi pada usaha yang tak berizin resmi.
Oleh karenanya salah satu peneliti BATAN, yaitu Dr.Sofyan Yatim, menyerahkan prototipe dan cara bekerjanya pada seorang ibu pengamat lingkungan yang saat itu aktif di IKIP Gorontalo. Usul kami saat itu adalah untuk diperkenalkan kepada para penambang rakyat di Gorontalo dan dibuat oleh bengkel di Gorontalo agar bisa jadi usaha yang dapat tumbuh seperti bentor (yang saya dengar sudah ke beberapa propinsi).
Sebab, teknologi yang diberikan akan mencegah lepasnya air raksa ke lingkungan dan berarti penghematan biaya produksi mestinya akan menarik para penambang rakyat dari daerah lain. Selain teknologi proses daur ulang, BATAN juga memberikan bibit padi unggul yang mempunyai kapasitas produksi hingga 8 ton/ha (tingkat kebun percobaan malah bisa 10 ton/ha) dan teknologi pakan ternak untuk mempercepat penggemukan sapi.
Semoga usaha tersebut dapat dilanjutkan para sukarelawan yangberminat.
Majulah Gorontalo.
Subscribe to:
Posts (Atom)