Iing Casdirin
23 Sept 06
Di sebuah rumah megah di Jakarta tinggal satu keluarga yang terdiri dari satu anak dan kedua orang tuanya. Minggu pagi yang cerah halaman rumah mereka tampak indah dan mempesona. Tiba-tiba datang tiga orang tamu yang mengetuk pintu rumah mereka.
Tak lama setelah ketukan ketiga, pintu terbuka lalu muncul dari dalam sosok perempuan setengah baya sambil berkata, "Silakan masuk, silakan duduk." Ketiga tamu pun masuk dan memperkenalkan diri satu per satu. Yang pertama bernama "Kaya", yang kedua bernama "Sukses", dan yang ketiga bernama "Cinta".
Salah satu tamu itu berkata, "Silakan pilih salah satu dari kami untuk bisa tinggal di sini, karena apabila satu yang terpilih maka dua dari kami harus keluar dari rumah ini. Kalian bisa pilih Kaya, Sukses atau Cinta. Terserah pilih yang mana, tapi itulah perjanjiannya."
Terlihat bingung, lalu si ibu itu berkata, "Tunggu, aku akan panggil suamiku untuk minta pendapat kepadanya."
Tak lama, muncul suaminya dan dia jelaskan kepada suaminya perihal tamunya yang aneh. Suami istri tersebut terlihat bingung untuk menentukan pilihan. Akhirnya si suami bilang, "Kita pilih Kaya saja, kalau kita kaya kan kita bisa beli mobil, tanah, properti, dan banyak uang tentunya. Kita bisa membantu orang yang membutuhkan, kita pilih Kaya saja."
Istrinya menjawab, "Kenapa kita tidak pilih Sukses? Karena menurut orang bijak, kaya belum tentu sukses, tetapi kalau sukses pasti kaya."
Lama mereka berdiskusi untuk menentukan pilihan siapa yang akan tinggal bersamanya, sementara ketiga tamunya hanya duduk menunggu dan tersenyum penuh makna.
Dari perdebatan itu, dari tangga atas muncul anak mereka yang baru berusia 9 tahun dan berkata, "Pap, Mam, kenapa tidak pilih Cinta? Banyak orang kaya dan sukses tetapi hidupnya hampa tanpa cinta."
Kata-katanya pendek tapi mengagetkan kedua orangtuanya. Lalu, kedua orangtuanya berpikir dalam hati, "Yah, kenapa kita tidak pilih Cinta."
Tamunya berkata, "Sudah tentukan pilihan?." Si suami akhirnya berkata, "Kami pilih Cinta."
Namun yang aneh adalah kedua dari tamu itu, yakni si Kaya dan si Sukses, yang tetap saja tidak beranjak pergi. Dalam kebingungan si suami berkata, "Kenapa kalian berdua tetap diam, bukankah perjanjiannya apabila salah satu terpilih maka yang dua harus pergi, kenapa sekarang semuanya tetap di sini?."
Ketiga tamu itu secara bersama malah makin maju duduknya dan salah satu dari mereka berkata, "Pilihanmu tepat, jika kau pilih Kaya maka Cinta dan Sukses harus keluar, jika kau pilih Sukses maka Kaya dan si Cinta harus keluar. Akan tetapi, jika kau pilih Cinta maka Kaya dan Sukses tidak bisa dipisahkan, karena Kaya dan Sukses adalah bagian dari Cinta. Jalan yang kau pilih sangat tepat, karena sesungguhnya jalan menuju kekayaan dan kesuksesanmu adalah cinta, Tao of Love. Selamat kawan," ujar ketiganya sambil tersenyum.
Salam sayang penuh cinta buat orang-orang terdekat anda.
Friday, August 10, 2007
Tuhan yang Bingung (Renungan Ramadhan)
Iing Casdirin
21 Sept 2007
Suatu hari di surga Tuhan sedang bingung dan memikirkan bagaimana caranya agar tidak diganggu manusia yang selalu banyak permintaan dan tuntutan. Tuhan memanggil empat malaikat terbaiknya dan bertanya bagaimana caranya agar dirinya tidak ditemukan oleh manusia.
Malaikat pertama berkata: Tuhanku, kenapa Engkau tidak pergi saja ke gunung yang tinggi dimana orang belum tahu bahkan tidak berani ke sana.
Tuhan menjawab: Itu dulu. Sekarang manusia sudah mendaki gunung-gunung yang tinggi di manapun berada. Manusia adalah makhluk pemberani, pasti mereka akan temukan aku.
Malaikat kedua pun memberi usul: Kenapa Tuhan tidak coba pergi ke dasar lautan, manusia kan makhluk daratan, pasti tidak bisa kesana.
Tuhan menjawab: Itu dulu. Manusia sangat pintar, mereka menciptakan alat menyelaman dan pasti menemukan Aku.
Giliran malaikat ketiga memberikan usul: Bagaimana kalau Tuhan pergi saja ke planet antariksa, dimana manusia jelas-jelas tidak bisa pergi kesana.
Tuhan menjawab: Itu dulu, wahai para malaikatku. Sekarang manusia sangat cerdas, bisa menciptakan pesawat yang bisa ke planet lain. Mereka pasti bisa menemukan Aku.
Terakhir, malaikat keempat yang memberikan usul: Tuhanku, ada satu tempat dimana tempat itu dekat sekali dengan manusia, bukan di gunung, bukan di dasar laut, bukan juga di antariksa, tetapi manusia tidak tahu tempatnya.
"Dimana tempat itu, wahai malaikatku?," tanya Tuhan sedikit penasaran.
Malaikat itu menjawab: Tempatnya di hati manusia itu sendiri, Tuhanku.
Sejak itulah, konon Tuhan bersemayam di hati setiap hamba-Nya.
Bulan Ramadhan tinggal menghitung jam. Yuk, kita sama-sama mencari Tuhan di hati kita, bukan di tempat lain. Jika itu berhasil, kita akan menemukan kebahagiaan melebihi bahagia karena banyak uang, materi dan kedududukan, tetapi bahagia karena telah menemukan Tuhan itu sendiri, di sini, di hati kita, dekat sekali.
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA
MOHON MAAF LAHIR BATHIN
21 Sept 2007
Suatu hari di surga Tuhan sedang bingung dan memikirkan bagaimana caranya agar tidak diganggu manusia yang selalu banyak permintaan dan tuntutan. Tuhan memanggil empat malaikat terbaiknya dan bertanya bagaimana caranya agar dirinya tidak ditemukan oleh manusia.
Malaikat pertama berkata: Tuhanku, kenapa Engkau tidak pergi saja ke gunung yang tinggi dimana orang belum tahu bahkan tidak berani ke sana.
Tuhan menjawab: Itu dulu. Sekarang manusia sudah mendaki gunung-gunung yang tinggi di manapun berada. Manusia adalah makhluk pemberani, pasti mereka akan temukan aku.
Malaikat kedua pun memberi usul: Kenapa Tuhan tidak coba pergi ke dasar lautan, manusia kan makhluk daratan, pasti tidak bisa kesana.
Tuhan menjawab: Itu dulu. Manusia sangat pintar, mereka menciptakan alat menyelaman dan pasti menemukan Aku.
Giliran malaikat ketiga memberikan usul: Bagaimana kalau Tuhan pergi saja ke planet antariksa, dimana manusia jelas-jelas tidak bisa pergi kesana.
Tuhan menjawab: Itu dulu, wahai para malaikatku. Sekarang manusia sangat cerdas, bisa menciptakan pesawat yang bisa ke planet lain. Mereka pasti bisa menemukan Aku.
Terakhir, malaikat keempat yang memberikan usul: Tuhanku, ada satu tempat dimana tempat itu dekat sekali dengan manusia, bukan di gunung, bukan di dasar laut, bukan juga di antariksa, tetapi manusia tidak tahu tempatnya.
"Dimana tempat itu, wahai malaikatku?," tanya Tuhan sedikit penasaran.
Malaikat itu menjawab: Tempatnya di hati manusia itu sendiri, Tuhanku.
Sejak itulah, konon Tuhan bersemayam di hati setiap hamba-Nya.
Bulan Ramadhan tinggal menghitung jam. Yuk, kita sama-sama mencari Tuhan di hati kita, bukan di tempat lain. Jika itu berhasil, kita akan menemukan kebahagiaan melebihi bahagia karena banyak uang, materi dan kedududukan, tetapi bahagia karena telah menemukan Tuhan itu sendiri, di sini, di hati kita, dekat sekali.
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA
MOHON MAAF LAHIR BATHIN
Peluang Incumbent dan Challenger
Ramang H. Demolingo
14 Sept 06
Berbicara tentang peluang Incumbent dan Challenger (= Contender--red) untuk level Gubernur sangat menarik untuk kami angkat dalam ulasan part tiga dalam ; Gorontalo menjelang pesta rakyat saat ini. Mengapa karena kami telah merujuk data sebelumnya, peluang terpilihnya kembali incumbent lebih besar dari challenger ini disebakan terutama oleh karena faktor dimana incumbent masih berkuasa, sehingga ditakutkan, mempergunakan kekuasaanya dalam campaignnya atau bahkan kemungkinan mempergunakan RAPBD untuk kepentingan kelompoknya.
Nah ke khawatiran - khawatiran ini, yang terjadi di beberapa koalisi partai yang ada di provinsi gorontalo, dan terutama kawasan Indonesia Timur lainnya. Ini yang membuat demokrasi agak terhambat prosesnya. Tetapi sebenarnya kecenderungan-kecenderungan semacam ini tidak beralasan karena untuk tingkatan gubernur : mantan incumbent gubernur yang mencalonkan cenderung gagal, cth: propinsi Jambi, Sulawesi Tengah, Papua dan Kalimantan Tengah.
Tapi, kasus Gubernur Sulawesi Tengah dan Papua lebih menarik. Terpilih kembali sejak meninggalkan kursi gubernur 5 dan 13 tahun. Latar belakang kandidat semakin rumit bila ditilik dari latar belakang yg lebih spesifik: Misal: mantan menteri (walikota Depok, mantan anggota DPR, Teras Narang di Kalteng) atau pengusaha nasional yang merupakan putera daerah.
Belum lagi image melekat pada incumbent : kecurigaan yang sering berlebihan terhadap “keuntungan-keuntungan” yang dimilikinnya selama menjabat tetapi justru inilah yang menjadi kesempatan Challenger untuk memenangkan pemilihan gubernur. Nah peluang -peluang ini yang seharusnya di cermati oleh koalisi partai yang ingin mengusung kandidatnya dalam pertarungan yang sehat dalam tatanan berdemokrasi. Kompleksitas infra dan supra struktur sosial-ekonomi-politik-budaya masyarakat Gorontalo menghadapi pemilihan langsung kepala daerah dalam hal ini sangat menentukan tagaknya demokrasi di provinsi yang masih seumur jagung ini.
Terutama orientasi sosiologis-kultural yang “sempit” sehingga megintervensi rasionalitas keputusan individual---sementara pilkada langung membutuhkan indepedensi individu masing-masing dalam memilih.
Untuk peluang Challenger dalam hal ini putera asli daerah di kota-kota besar seperti Jakarta “bermigrasi dan mengabdi ke kampung halaman “yang menonjol pada pilkada langsung, sudah dipraktikan Provinsi Gorontalo jauh sebelum pilkada di putuskan. Terbukti dengan terpilihnya FM sebagai gubernur periode 2001-2006. Jadi siapapun yang menjadi Challenger seharusnya all out dalam mempersiapkan dirinnya menghadapi daerah yang bakal dia pimpin,memaparkan apa yang menjadi prioritas pembangunan yang berpihak kepada rakyat tentunnya, apa yang menjadi visi, misi dan srategi yang akan diterakpkan nanti, terlepas apa yang menjadi motivasinnya pulang kampung.
Hal yang sama juga dialami FM sebelum di lantik menjadi gubernur definitif pertama untuk provinsi gorontalo, 10 Desember 2001. Beliau pernah menyatakan di salah satu media nasional ‘Republika’ pada saat itu bahwa motivasinya pulang kampung adalah membangun gorontalo yang teringgal jauh dari provinsi induknya,dan tentu dengan hati Nurani. Pendapatan asli daerah pada saat itu sangat kecil. 72,4 persen (2001) berada dalam kelompok prasejahtera.
Yang terjadi sekarang, banyak orang Gorontalo yang sukses atau menjadi orang setelah ke luar, ke Jakarta misalnya. Mereka jauh lebih makmur dari orang yang ada di Gorontalo sendiri. Bahkan jadi pengusaha,politisi atau Artis nasional yang terkenal. Dan yang paling terpenting bagi siapapun yang menjadi Gubernur Gorontalo tidak menimbulkan konflik di Gorontalo.
Hal ini yang menjadi harapan kita bersama, karena setidaknya landasan dan strategi melakukan percepatan pembangunan dengan mengutamakan penyediaan dan peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur, peningkatan kinerja sektor pertanian, peternakan, dan perikanan untuk mengejar ketertinggalan Gorontalo sudah dilakukan oleh gubernur sebelumnya. restrukturisasi, refungsionalisasi, revitalisasi, dan reaktualisasi lembaga-lembaga pemerintah, kemasyarakatan, dan adat sebagai wahana ke arah terwujudnya entrepreneurial government dan masyarakat yang mandiri. serta kebijakan yang akan diterapkan memiliki standar pada potensi nyata pada masyarakat, sumber daya alam dan nilai-nilai sosial dan budaya yang belaku, sehingga menjamin partisipasi dan proses demokratisasi dalam segenap tatanan kehidupan.
Dengan sedikit sentuhan entrepreneurship, saya yakin potensi dan kekayaan daya alam yang ada di daerah akan bisa dioptimalkan bagi masyarakat setempat. Landasan-landasan ini yang sudah dilakukan oleh pendahulunya, sehingga siapapun gubernur yang akan datang harus lebih intensif meningkatkan suberdaya yang ada baik itu sumber daya Alam atau SDM di daerah.
Sedangkan moralitas agama, adalah suatu keyakinan terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang bersumber dari ajaran agama. Ini lekat dengan kehidupan relijius masyarakat Gorontalo yang menjunjung tinggi falsafah 'adat bersendi sara, dan sara bersendikan kitabullah'. Semoga sedikit ulasan kami ini bermamfaat untuk kita semua pengguna milis gorontalomaju2020. mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan dalam ulasan ini, karena kekurangan hanyalah milik kami dan kesempurnaan milik Allah.
14 Sept 06
Berbicara tentang peluang Incumbent dan Challenger (= Contender--red) untuk level Gubernur sangat menarik untuk kami angkat dalam ulasan part tiga dalam ; Gorontalo menjelang pesta rakyat saat ini. Mengapa karena kami telah merujuk data sebelumnya, peluang terpilihnya kembali incumbent lebih besar dari challenger ini disebakan terutama oleh karena faktor dimana incumbent masih berkuasa, sehingga ditakutkan, mempergunakan kekuasaanya dalam campaignnya atau bahkan kemungkinan mempergunakan RAPBD untuk kepentingan kelompoknya.
Nah ke khawatiran - khawatiran ini, yang terjadi di beberapa koalisi partai yang ada di provinsi gorontalo, dan terutama kawasan Indonesia Timur lainnya. Ini yang membuat demokrasi agak terhambat prosesnya. Tetapi sebenarnya kecenderungan-kecenderungan semacam ini tidak beralasan karena untuk tingkatan gubernur : mantan incumbent gubernur yang mencalonkan cenderung gagal, cth: propinsi Jambi, Sulawesi Tengah, Papua dan Kalimantan Tengah.
Tapi, kasus Gubernur Sulawesi Tengah dan Papua lebih menarik. Terpilih kembali sejak meninggalkan kursi gubernur 5 dan 13 tahun. Latar belakang kandidat semakin rumit bila ditilik dari latar belakang yg lebih spesifik: Misal: mantan menteri (walikota Depok, mantan anggota DPR, Teras Narang di Kalteng) atau pengusaha nasional yang merupakan putera daerah.
Belum lagi image melekat pada incumbent : kecurigaan yang sering berlebihan terhadap “keuntungan-keuntungan” yang dimilikinnya selama menjabat tetapi justru inilah yang menjadi kesempatan Challenger untuk memenangkan pemilihan gubernur. Nah peluang -peluang ini yang seharusnya di cermati oleh koalisi partai yang ingin mengusung kandidatnya dalam pertarungan yang sehat dalam tatanan berdemokrasi. Kompleksitas infra dan supra struktur sosial-ekonomi-politik-budaya masyarakat Gorontalo menghadapi pemilihan langsung kepala daerah dalam hal ini sangat menentukan tagaknya demokrasi di provinsi yang masih seumur jagung ini.
Terutama orientasi sosiologis-kultural yang “sempit” sehingga megintervensi rasionalitas keputusan individual---sementara pilkada langung membutuhkan indepedensi individu masing-masing dalam memilih.
Untuk peluang Challenger dalam hal ini putera asli daerah di kota-kota besar seperti Jakarta “bermigrasi dan mengabdi ke kampung halaman “yang menonjol pada pilkada langsung, sudah dipraktikan Provinsi Gorontalo jauh sebelum pilkada di putuskan. Terbukti dengan terpilihnya FM sebagai gubernur periode 2001-2006. Jadi siapapun yang menjadi Challenger seharusnya all out dalam mempersiapkan dirinnya menghadapi daerah yang bakal dia pimpin,memaparkan apa yang menjadi prioritas pembangunan yang berpihak kepada rakyat tentunnya, apa yang menjadi visi, misi dan srategi yang akan diterakpkan nanti, terlepas apa yang menjadi motivasinnya pulang kampung.
Hal yang sama juga dialami FM sebelum di lantik menjadi gubernur definitif pertama untuk provinsi gorontalo, 10 Desember 2001. Beliau pernah menyatakan di salah satu media nasional ‘Republika’ pada saat itu bahwa motivasinya pulang kampung adalah membangun gorontalo yang teringgal jauh dari provinsi induknya,dan tentu dengan hati Nurani. Pendapatan asli daerah pada saat itu sangat kecil. 72,4 persen (2001) berada dalam kelompok prasejahtera.
Yang terjadi sekarang, banyak orang Gorontalo yang sukses atau menjadi orang setelah ke luar, ke Jakarta misalnya. Mereka jauh lebih makmur dari orang yang ada di Gorontalo sendiri. Bahkan jadi pengusaha,politisi atau Artis nasional yang terkenal. Dan yang paling terpenting bagi siapapun yang menjadi Gubernur Gorontalo tidak menimbulkan konflik di Gorontalo.
Hal ini yang menjadi harapan kita bersama, karena setidaknya landasan dan strategi melakukan percepatan pembangunan dengan mengutamakan penyediaan dan peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur, peningkatan kinerja sektor pertanian, peternakan, dan perikanan untuk mengejar ketertinggalan Gorontalo sudah dilakukan oleh gubernur sebelumnya. restrukturisasi, refungsionalisasi, revitalisasi, dan reaktualisasi lembaga-lembaga pemerintah, kemasyarakatan, dan adat sebagai wahana ke arah terwujudnya entrepreneurial government dan masyarakat yang mandiri. serta kebijakan yang akan diterapkan memiliki standar pada potensi nyata pada masyarakat, sumber daya alam dan nilai-nilai sosial dan budaya yang belaku, sehingga menjamin partisipasi dan proses demokratisasi dalam segenap tatanan kehidupan.
Dengan sedikit sentuhan entrepreneurship, saya yakin potensi dan kekayaan daya alam yang ada di daerah akan bisa dioptimalkan bagi masyarakat setempat. Landasan-landasan ini yang sudah dilakukan oleh pendahulunya, sehingga siapapun gubernur yang akan datang harus lebih intensif meningkatkan suberdaya yang ada baik itu sumber daya Alam atau SDM di daerah.
Sedangkan moralitas agama, adalah suatu keyakinan terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang bersumber dari ajaran agama. Ini lekat dengan kehidupan relijius masyarakat Gorontalo yang menjunjung tinggi falsafah 'adat bersendi sara, dan sara bersendikan kitabullah'. Semoga sedikit ulasan kami ini bermamfaat untuk kita semua pengguna milis gorontalomaju2020. mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan dalam ulasan ini, karena kekurangan hanyalah milik kami dan kesempurnaan milik Allah.
Paradigma Masyarakat Gorontalo
Taufik Polapa
9 Sept 06
Dewasa ini Masyarakat Gorontalo khususnya Orang tua kita yang ada di Prop. Gorontalo punya Impian, Harapan dan cita2 agar Anak2nya Kelak Setelah Menimba Ilmu di Kampung Orang dengan Gelar tertinggi agar kembali ke kampung Halaman tercinta Gorontalo untuk Mendaftar menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil).
Sebenarnya memang benar apa yang menjadi harapan Orang tua kita karena pada kenyataannya bahwa pekerjaan yang paling Safety and tanpa resiko di Gorontalo adalah menjadi PNS, dan bisa di banggakan di Mata Keluarga kalau Anaknya sudah menjadi PNS dan Hal ini bukan Saja di Gorontalo. Di Kota Makassar pun saya rasa seperti itu, karena hampir70% Orang Tua Masyarakat Kota Makassar mengharapkan Anak2nya setelah Selesai Kuliah agar mendaftar menjadi PNS dan Lulus, walaupun harus berusaha utk melakukan KKN, dengan menjual Sawah, menggadekan sertifikat Rumah dan apa saja agar Anaknya bisa Lolos masuk dalam Jajaran Pemerintahan. Tapi tidak sedikit pula yang tetap Optimis untuk Lolos Murni.
Tapi kondisi Gorontalo saat ini dengan 15 tahun yang lalu sangatlah berbeda, dimana Daerah kt masih sangat tergantung dari Pemerintahan yang ada di Manado, saat ini Generasi Muda Gorontalolah yang bs menentukan Roda pembangunan dan Perekonomian Prop Gorontalo dan Syukur Alhamdulillah tidak lagi bergantung pada Daerah Manado tapi biar bagaimana pun juga kita tetap bs menjalin hubungan baik dengan daerah2 yang ada disekitar kita agar perputaran ekonomi bs berjalan dengan baik.
Memang apa yang telah di lakukan oleh Pemerintahan FADEL dalam 5 Tahun belakangan ini sudahlah tepat walaupun belum bisa di katakan utk berhasil, dimana perekrutan CPNS di semua Instansi secara Besar2an, walaupun demikian Pemerintahan sekarang pasti telah memiliki Target ke depan, dan bukan hanya saja Fokus dalam hal Rekruitment CPNS saja, tp harus lebih memperhatikan SDM yang kuat dan bukan hanya sekedar titel Sarjana tp tidak bisa melahirkan Ide2 yang Briliant utk pembangunan Gorontalo.
Bukan hanya menggunakan Motto "5 D" (Datang,Duduk, Diam, Dengar,Duit), karena sebelumnya saya pernah bertemu denganteman saya yang kebetulan saat itu Kerja di Pemda KotaGtlo, dia bercerita bahwa kalo saat itu pekerjaannya hanya datang ke Kantor saja, trus Absen, dan kalo siang Pulang ke Rumah. ..... Jam 2 baru balik k Ktr...trus.... Main Soltaire (Game Kartu).. trusss waktu Pulang ,,,,, Tanggg... Go.......
Padahal teman saya itu memiliki SDM yang bagus dan motovasi kerja yang tinggi, tapi mungkin Skill yang dimiliki tidak bisa diaktulisasi di tempat dia kerjakarena bidang dia tidak sesuai dengan Kemampuannya. Nah hal2 sepele seperti ini perlu di perhatikan oleh para pemimpin2 yang ada d gtlo, dimana penempatan SDM yang handal dari hasil Seleksi CPNS kalau boleh ditempatkan sesuai Bidang yang dimiliki, akibatkan Personil yang ada tidak bisa bekerja maksimal dan mengekspresikan Ide atau hasil karyanya utk kemajuan gorontalo.
Ada baiknya Para Generasi Muda Gorontalo ke depan tidak berpikir untuk menjadi PNS saja, tapi lebih berpikir utk menciptakan Lapangan Kerja buat Masyarakat Gtlo tingkat bawah, seperti Lulusan SD, SMP yang sulit mencari kerja di mana2. Untuk itu pemerintah Daerah Gorontalo juga tidak hanya Fokus kepada peningkatan SDM Aparatur pemerintahan saja tapi juga memperhatikan UKM yang ada d Gorontalo agar bisa menciptakan Lapangan pekerjaan buat kaum kecil, dan menjamin kelangsungannya.
Karena 2020 kita harus keluar dari keterbelakangan dan kemunduran dari daerah2 lain. saya yakin Gorontalo akan Maju kalo semua Komponen Masyarakat Gorontalo baik dari yang Muda sampai tua bisa bersatu memikirkannya secara bersama2 tanpa ada rasa gengsi dan merasa sok pintar, Sok Tua, Sok Kaya, Sok terpandang dan Sok Soklainnnya.....
Mari kita bersama2 merasa Gorontalo adalah milik kita semua dan membangun secara bersama, karena apalah artinya pemerintahan saat ini jika membuat SasaranTarget Kerja ke Depan tapi tidak saling bersatu satu sama lainnya. Yang ada hanya saling menjatuhkan dan saling menyudutkan, .... karena jika itu di lakukan oleh para pemimpin2 kita yang tercinta pasti sasaran dan target 2020 Gorontalo Maju hanya Khayalan.
Kebetulan saya di Kota Makassar sudah lebih dari 13 Tahun saya melihat perkembangan Ekonomi Kota Makassar tumbuh sangat pesat bukan karena banyakan PNS di kotaMakassar, tp karena banyaknya tumbuh UKM yang diDukung oleh pemerintah dan Perbankan. Sehingga saat ini Kota Makasssar di kenal dengan Kota Seribu RUKO (Rumah Kantor) Kemana2 kita akan melihat RUKO tersebardari Pinggiran Kota Makassar sampai ke dalam kota Makassar.
Saya melihat langkah yang di tempuh oleh WalikotaMakassar saat ini (Bpk. Ilham) sangatlah tepat dimana yang dilakukan adalah :
1. Mengajak Masyarakat utk Gemar MEMBACA Program ini di dukung oleh pemerintah dengan mendirikan Perpustakaan Keliling buat masyarakat serta menginstruksikan kepada Orang Tua Anak2 sekolah melalui Guru2 agar di beri Bacaan Extra agar Wawasanmereka terbuka.
2. SD, SMP Negeri seluruh Kota Makassar di bebaskandari Biaya SPP dan BP3.3. Pendidikan TK, Hingga SD harus bisa Baca Al-Quran. dan masih banyak lagi program2nya Pemda Kota makassar... dengan tujuan agar menciptakan SDM2 yang handal ke depan.
Yang menjadi pertanyaan saya :1. Mengapa Orang tua kita selama ini lebih mengharapkan kita untuk menjadi PNS di gtlo ? 2. Apakah memang tidak ada peluang utk berwiraswasta di daerah yang kt cintai ??
Pertanyaan ini sengaja saya lontarkan karena setiapkali saya ketemu dengan teman2 dari Gorontalo merekamasih mengganggap bahwa PNS saat ini masih menjadi Favorit di Gorontalo. Karena di Gorontalo mereka katakan perputaran Uang masih Sulit jadi sulit utk Menjalankan Usaha Kecuali yang sudah Eksis sebelumnya itu pun berjalan pelan2, kecuali berharap dari ProyekPengadaan di pemerintahan atau menjalan Usaha Koperasi Simpan Pinjam dengan Bunga 10%/Bln (apa tidakmenyusahkan rakyat kecil ???). Apakah Paradigma seperti itu bisa tetap kita perhatankan or bisa kita rubah dengan mencapai Hasil yang maksimal utk Gorontalomaju2020.
9 Sept 06
Dewasa ini Masyarakat Gorontalo khususnya Orang tua kita yang ada di Prop. Gorontalo punya Impian, Harapan dan cita2 agar Anak2nya Kelak Setelah Menimba Ilmu di Kampung Orang dengan Gelar tertinggi agar kembali ke kampung Halaman tercinta Gorontalo untuk Mendaftar menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil).
Sebenarnya memang benar apa yang menjadi harapan Orang tua kita karena pada kenyataannya bahwa pekerjaan yang paling Safety and tanpa resiko di Gorontalo adalah menjadi PNS, dan bisa di banggakan di Mata Keluarga kalau Anaknya sudah menjadi PNS dan Hal ini bukan Saja di Gorontalo. Di Kota Makassar pun saya rasa seperti itu, karena hampir70% Orang Tua Masyarakat Kota Makassar mengharapkan Anak2nya setelah Selesai Kuliah agar mendaftar menjadi PNS dan Lulus, walaupun harus berusaha utk melakukan KKN, dengan menjual Sawah, menggadekan sertifikat Rumah dan apa saja agar Anaknya bisa Lolos masuk dalam Jajaran Pemerintahan. Tapi tidak sedikit pula yang tetap Optimis untuk Lolos Murni.
Tapi kondisi Gorontalo saat ini dengan 15 tahun yang lalu sangatlah berbeda, dimana Daerah kt masih sangat tergantung dari Pemerintahan yang ada di Manado, saat ini Generasi Muda Gorontalolah yang bs menentukan Roda pembangunan dan Perekonomian Prop Gorontalo dan Syukur Alhamdulillah tidak lagi bergantung pada Daerah Manado tapi biar bagaimana pun juga kita tetap bs menjalin hubungan baik dengan daerah2 yang ada disekitar kita agar perputaran ekonomi bs berjalan dengan baik.
Memang apa yang telah di lakukan oleh Pemerintahan FADEL dalam 5 Tahun belakangan ini sudahlah tepat walaupun belum bisa di katakan utk berhasil, dimana perekrutan CPNS di semua Instansi secara Besar2an, walaupun demikian Pemerintahan sekarang pasti telah memiliki Target ke depan, dan bukan hanya saja Fokus dalam hal Rekruitment CPNS saja, tp harus lebih memperhatikan SDM yang kuat dan bukan hanya sekedar titel Sarjana tp tidak bisa melahirkan Ide2 yang Briliant utk pembangunan Gorontalo.
Bukan hanya menggunakan Motto "5 D" (Datang,Duduk, Diam, Dengar,Duit), karena sebelumnya saya pernah bertemu denganteman saya yang kebetulan saat itu Kerja di Pemda KotaGtlo, dia bercerita bahwa kalo saat itu pekerjaannya hanya datang ke Kantor saja, trus Absen, dan kalo siang Pulang ke Rumah. ..... Jam 2 baru balik k Ktr...trus.... Main Soltaire (Game Kartu).. trusss waktu Pulang ,,,,, Tanggg... Go.......
Padahal teman saya itu memiliki SDM yang bagus dan motovasi kerja yang tinggi, tapi mungkin Skill yang dimiliki tidak bisa diaktulisasi di tempat dia kerjakarena bidang dia tidak sesuai dengan Kemampuannya. Nah hal2 sepele seperti ini perlu di perhatikan oleh para pemimpin2 yang ada d gtlo, dimana penempatan SDM yang handal dari hasil Seleksi CPNS kalau boleh ditempatkan sesuai Bidang yang dimiliki, akibatkan Personil yang ada tidak bisa bekerja maksimal dan mengekspresikan Ide atau hasil karyanya utk kemajuan gorontalo.
Ada baiknya Para Generasi Muda Gorontalo ke depan tidak berpikir untuk menjadi PNS saja, tapi lebih berpikir utk menciptakan Lapangan Kerja buat Masyarakat Gtlo tingkat bawah, seperti Lulusan SD, SMP yang sulit mencari kerja di mana2. Untuk itu pemerintah Daerah Gorontalo juga tidak hanya Fokus kepada peningkatan SDM Aparatur pemerintahan saja tapi juga memperhatikan UKM yang ada d Gorontalo agar bisa menciptakan Lapangan pekerjaan buat kaum kecil, dan menjamin kelangsungannya.
Karena 2020 kita harus keluar dari keterbelakangan dan kemunduran dari daerah2 lain. saya yakin Gorontalo akan Maju kalo semua Komponen Masyarakat Gorontalo baik dari yang Muda sampai tua bisa bersatu memikirkannya secara bersama2 tanpa ada rasa gengsi dan merasa sok pintar, Sok Tua, Sok Kaya, Sok terpandang dan Sok Soklainnnya.....
Mari kita bersama2 merasa Gorontalo adalah milik kita semua dan membangun secara bersama, karena apalah artinya pemerintahan saat ini jika membuat SasaranTarget Kerja ke Depan tapi tidak saling bersatu satu sama lainnya. Yang ada hanya saling menjatuhkan dan saling menyudutkan, .... karena jika itu di lakukan oleh para pemimpin2 kita yang tercinta pasti sasaran dan target 2020 Gorontalo Maju hanya Khayalan.
Kebetulan saya di Kota Makassar sudah lebih dari 13 Tahun saya melihat perkembangan Ekonomi Kota Makassar tumbuh sangat pesat bukan karena banyakan PNS di kotaMakassar, tp karena banyaknya tumbuh UKM yang diDukung oleh pemerintah dan Perbankan. Sehingga saat ini Kota Makasssar di kenal dengan Kota Seribu RUKO (Rumah Kantor) Kemana2 kita akan melihat RUKO tersebardari Pinggiran Kota Makassar sampai ke dalam kota Makassar.
Saya melihat langkah yang di tempuh oleh WalikotaMakassar saat ini (Bpk. Ilham) sangatlah tepat dimana yang dilakukan adalah :
1. Mengajak Masyarakat utk Gemar MEMBACA Program ini di dukung oleh pemerintah dengan mendirikan Perpustakaan Keliling buat masyarakat serta menginstruksikan kepada Orang Tua Anak2 sekolah melalui Guru2 agar di beri Bacaan Extra agar Wawasanmereka terbuka.
2. SD, SMP Negeri seluruh Kota Makassar di bebaskandari Biaya SPP dan BP3.3. Pendidikan TK, Hingga SD harus bisa Baca Al-Quran. dan masih banyak lagi program2nya Pemda Kota makassar... dengan tujuan agar menciptakan SDM2 yang handal ke depan.
Yang menjadi pertanyaan saya :1. Mengapa Orang tua kita selama ini lebih mengharapkan kita untuk menjadi PNS di gtlo ? 2. Apakah memang tidak ada peluang utk berwiraswasta di daerah yang kt cintai ??
Pertanyaan ini sengaja saya lontarkan karena setiapkali saya ketemu dengan teman2 dari Gorontalo merekamasih mengganggap bahwa PNS saat ini masih menjadi Favorit di Gorontalo. Karena di Gorontalo mereka katakan perputaran Uang masih Sulit jadi sulit utk Menjalankan Usaha Kecuali yang sudah Eksis sebelumnya itu pun berjalan pelan2, kecuali berharap dari ProyekPengadaan di pemerintahan atau menjalan Usaha Koperasi Simpan Pinjam dengan Bunga 10%/Bln (apa tidakmenyusahkan rakyat kecil ???). Apakah Paradigma seperti itu bisa tetap kita perhatankan or bisa kita rubah dengan mencapai Hasil yang maksimal utk Gorontalomaju2020.
Bersama Membangun Gorontalo
Jerry Montoliang
9 Sept 06
Mohon maaf jika title yg saya angkat terdengar mubajir di telinga anda semua, tetapi saya ingin membagi pemikiran tentang upaya dalam kebersamaan kita membangun Gorontalo. Seperti yang saya tahu luas wilayah provinsi ini 12.215 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 887.000 jiwa (2004). Nah jika kita lihat sumber daya alamnya begitu luas serta SDM yang begitu banyak, tidaklah mengherankan jika Gorontalo bisa maju layaknya Kota2 lain di Indonesia.
Nah bagaimana upaya yang perlu dilakukan apakah segala upaya yang di lakukan saat ini belum maksimal, ini pertanyan yg sangat klasik namun perlu di respon dengan bijak. Jawabannya adalah BELUM Cukup dengan Gonggongan Seruan serta sosialisasi saja akan tetapi dengan action dan kerja sama.
Saya melihat perkembangan Gorontalo lambat dalam peningkatan namun luas dalam kreatifitas, artinya perkembangan Gorontalo terlalu terpecah belah sehingga yang satu berjalan dan lainnya berlari. Ada yang laju pertumbuhannya bak sebuah mobil yang berlari kencang ada pula yg berlari seperti seekor bekicot. Fenomena seperti ini memang wajar terjadi tapi akankah kita tinggal diam, membiarkan ini terus terjadi?
Nah bagaimana upaya yang tepat, sesuai title tulisan saya "Bersama Membangun Gorontalo" kita harus bekerja sama semua lapisan masyarakat, pemerintahan, pebisnis, dsb merumuskan strategi perkembangan Gorontalo, jangan hanya merumuskan perkembangan secara group misalkan pembahasnya hanya para pebisnis atau para tokoh pembangunan dsb. Kita tetap harus melakukan yg namanya sharing sesion, yang melibatkan para pendidik, mahasiswa, politikus, ekonom, pebisnis, (dsb sesuai kondisi di Gorontalo) sehingga formula yang dihasilkan sesuai pandangan para warga Gorontalo dan perumusannya dapat maksimal.
Karena di rumuskan bersamasehingga action yg dilakukan pun dapat berjalan maksimal. Semoga dengan adanya milis ini akan lahir pemikiran2 yg objektif serta realistis untuk diterapkan. dan kalau pun perlu didokumentasikan untuk diteruskan di media elektronik/cetak di Gorontalo sebagai pemikiran alternatif bagi Warga Gorontalo.
9 Sept 06
Mohon maaf jika title yg saya angkat terdengar mubajir di telinga anda semua, tetapi saya ingin membagi pemikiran tentang upaya dalam kebersamaan kita membangun Gorontalo. Seperti yang saya tahu luas wilayah provinsi ini 12.215 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 887.000 jiwa (2004). Nah jika kita lihat sumber daya alamnya begitu luas serta SDM yang begitu banyak, tidaklah mengherankan jika Gorontalo bisa maju layaknya Kota2 lain di Indonesia.
Nah bagaimana upaya yang perlu dilakukan apakah segala upaya yang di lakukan saat ini belum maksimal, ini pertanyan yg sangat klasik namun perlu di respon dengan bijak. Jawabannya adalah BELUM Cukup dengan Gonggongan Seruan serta sosialisasi saja akan tetapi dengan action dan kerja sama.
Saya melihat perkembangan Gorontalo lambat dalam peningkatan namun luas dalam kreatifitas, artinya perkembangan Gorontalo terlalu terpecah belah sehingga yang satu berjalan dan lainnya berlari. Ada yang laju pertumbuhannya bak sebuah mobil yang berlari kencang ada pula yg berlari seperti seekor bekicot. Fenomena seperti ini memang wajar terjadi tapi akankah kita tinggal diam, membiarkan ini terus terjadi?
Nah bagaimana upaya yang tepat, sesuai title tulisan saya "Bersama Membangun Gorontalo" kita harus bekerja sama semua lapisan masyarakat, pemerintahan, pebisnis, dsb merumuskan strategi perkembangan Gorontalo, jangan hanya merumuskan perkembangan secara group misalkan pembahasnya hanya para pebisnis atau para tokoh pembangunan dsb. Kita tetap harus melakukan yg namanya sharing sesion, yang melibatkan para pendidik, mahasiswa, politikus, ekonom, pebisnis, (dsb sesuai kondisi di Gorontalo) sehingga formula yang dihasilkan sesuai pandangan para warga Gorontalo dan perumusannya dapat maksimal.
Karena di rumuskan bersamasehingga action yg dilakukan pun dapat berjalan maksimal. Semoga dengan adanya milis ini akan lahir pemikiran2 yg objektif serta realistis untuk diterapkan. dan kalau pun perlu didokumentasikan untuk diteruskan di media elektronik/cetak di Gorontalo sebagai pemikiran alternatif bagi Warga Gorontalo.
Good Governance Gorontalo, Mungkinkah?
Taufik Polapa
8 Sept 06
Salut saya atas masukan and support dari rekan serta antusias rekan2 utk memajukan gorontalo 2020, apa semua yang menjadi masukan rekan2 semua itu tidak salah, benar adanya....... tapi walaupun sehebat bagaimana pun saran, masukan dan ide kita kepada para pemimpin2 yang ada di gorontalo tp sepanjang mereka hanya menjadikan semua itu hanya wacana and lipsservice saja maka semua ide2 yang briliant dari rekan2 semua hanya akan menjadi isapan jempol belaka.
Menurut saya pribadi Khususnya fokus pada Pemerintahan Gorontalo Yang Good Governance (GG) kayaknya sulit akan terwujud hingga 2020. Kenapa saya katakan demikian ???? walaupun apa yang di katakan oleh BungIndra bahwa Masyarakat Gtlo merupakan masyarakat yang punya Pedoman Hidup dan di rumahnya banyak terdapat AL-quran tp hanya sekedar Kiasan dan bukan menjadi Pedoman Hidup, tp walaupun demikian ada jg yang menerapkan dalam kehidupan sehari2 tp jumlahnya tidak dominan, apalagi bagi para Pejabat yang ada di Gorontalo, mungkin hanya segelintir pejabat yang tahu memegang Al-Quran.... tapi tidak bs mengamalkan Isinya jadinya.... semua di pandang serba Mateerialistik...... karena pandangannya bukan berdasarkan pandangan Al-Quran.... Alasan saya mengatakan demikian.... kenapa ????
1. Prop Gtlo merupakan Prop termuda dan baru, sehingga orang2 yang menjadi duduk dalam pemerintahan selama ini berada di bawah naungan Manado akan merasa seperti bebas menentukan nasib Sendiri setelah lepas....Ibaratnya seperti Anak Kecil yang dapat mainan baru..... jadi serba Kaget dan ... pingin mencoba selama Aji Mumpung.....
2. Kehidupan Masyarakat Gorontalo selama ini terkenal dengan Gengsi Mo Pate ...... jadi Mumpung lagi duduk di kursi enak apa salahnya memperlihat kepada tetangga, sanak family, kerabat bahwa saat ini dia dah punya jabatan and memiliki fasilitas yang serba wah... dan masih ada pribadi masyarakat gtlo Budaya Malu dalam Hidup kesederhanaan. Tapi saya yakin ada juga pejabat yang mau hidup dalam kesederhanaan (Walaupun hanya 10% dari 100%)
3. kenyataan saat ini membuktikan Masih banyaknyaPejabat dan Anggota Dewan asal dari Gtlo masih senang jalan2 ke Kota2 besar di Indonesia seperti ke Jakarta, Surabaya, Makassar dengan Alasan Dinas or apa aja. utk buang2 duit Pemda dan Mau ambil keuntungan mendapatkan Uang perjalanan DINAS, dengan Pakaian and Penampilan sangat ,,,,, Necis and mentereng......padahal mereka nggak sadar masih banyak rakyat GTLO yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Sebenarnya masih banyak lagi alasan kenapa Gtlo sulit mewujudkan pemerintahan yang bersih, karena masih banyak pejabat yang suka hidup berfoya2. sehingga sulit utk mencapai itu semua.......Pada Prinsipnya yang saat ini kita butuhkan adalah Gubernur yang benar2 tegas, berwibawa, dan lebih memiliki Dasar Agama yang kuat dan mampu mengamalkan Ajaran yang di bawa oleh Rasululullah Muhamad Saw. Insya Allah Gtlo akan lebih maju dari Daerah manapun. Sekian... terima kasih.
8 Sept 06
Salut saya atas masukan and support dari rekan serta antusias rekan2 utk memajukan gorontalo 2020, apa semua yang menjadi masukan rekan2 semua itu tidak salah, benar adanya....... tapi walaupun sehebat bagaimana pun saran, masukan dan ide kita kepada para pemimpin2 yang ada di gorontalo tp sepanjang mereka hanya menjadikan semua itu hanya wacana and lipsservice saja maka semua ide2 yang briliant dari rekan2 semua hanya akan menjadi isapan jempol belaka.
Menurut saya pribadi Khususnya fokus pada Pemerintahan Gorontalo Yang Good Governance (GG) kayaknya sulit akan terwujud hingga 2020. Kenapa saya katakan demikian ???? walaupun apa yang di katakan oleh BungIndra bahwa Masyarakat Gtlo merupakan masyarakat yang punya Pedoman Hidup dan di rumahnya banyak terdapat AL-quran tp hanya sekedar Kiasan dan bukan menjadi Pedoman Hidup, tp walaupun demikian ada jg yang menerapkan dalam kehidupan sehari2 tp jumlahnya tidak dominan, apalagi bagi para Pejabat yang ada di Gorontalo, mungkin hanya segelintir pejabat yang tahu memegang Al-Quran.... tapi tidak bs mengamalkan Isinya jadinya.... semua di pandang serba Mateerialistik...... karena pandangannya bukan berdasarkan pandangan Al-Quran.... Alasan saya mengatakan demikian.... kenapa ????
1. Prop Gtlo merupakan Prop termuda dan baru, sehingga orang2 yang menjadi duduk dalam pemerintahan selama ini berada di bawah naungan Manado akan merasa seperti bebas menentukan nasib Sendiri setelah lepas....Ibaratnya seperti Anak Kecil yang dapat mainan baru..... jadi serba Kaget dan ... pingin mencoba selama Aji Mumpung.....
2. Kehidupan Masyarakat Gorontalo selama ini terkenal dengan Gengsi Mo Pate ...... jadi Mumpung lagi duduk di kursi enak apa salahnya memperlihat kepada tetangga, sanak family, kerabat bahwa saat ini dia dah punya jabatan and memiliki fasilitas yang serba wah... dan masih ada pribadi masyarakat gtlo Budaya Malu dalam Hidup kesederhanaan. Tapi saya yakin ada juga pejabat yang mau hidup dalam kesederhanaan (Walaupun hanya 10% dari 100%)
3. kenyataan saat ini membuktikan Masih banyaknyaPejabat dan Anggota Dewan asal dari Gtlo masih senang jalan2 ke Kota2 besar di Indonesia seperti ke Jakarta, Surabaya, Makassar dengan Alasan Dinas or apa aja. utk buang2 duit Pemda dan Mau ambil keuntungan mendapatkan Uang perjalanan DINAS, dengan Pakaian and Penampilan sangat ,,,,, Necis and mentereng......padahal mereka nggak sadar masih banyak rakyat GTLO yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Sebenarnya masih banyak lagi alasan kenapa Gtlo sulit mewujudkan pemerintahan yang bersih, karena masih banyak pejabat yang suka hidup berfoya2. sehingga sulit utk mencapai itu semua.......Pada Prinsipnya yang saat ini kita butuhkan adalah Gubernur yang benar2 tegas, berwibawa, dan lebih memiliki Dasar Agama yang kuat dan mampu mengamalkan Ajaran yang di bawa oleh Rasululullah Muhamad Saw. Insya Allah Gtlo akan lebih maju dari Daerah manapun. Sekian... terima kasih.
Subscribe to:
Comments (Atom)






