Jerry Montoliang
6 Des 06
Di era tahun 2000-an saat ini, tuntutan masyarakat adalah pemerintah yang harus memiliki waktu layanan yang cepat terhadap berbagi kebutuhan publik. Dengan kata lain, mereka tidak peduli bagaimana pemerintah mengorganisasikan dirinya, melainkan proses layanan yang diharapkan oleh masyarakat dapat diberikan secara baik, cepat, dan ekonomis. Inilah fenomena yang beredar di masyarakat.
Contoh dari fenomena di atas yang sering ditemukan adalah seringnya masyarakat mengeluh atas lambatnya layanan pengurusan administratif baik tingkat paling bawah (RT/RW, kelurahan bahkan sampai ke tingkat provinsi sekalipun), kurang adanya layanan akan kebutuhan masyarakat, tidak tercovernya seluruh kebutuhan masyarakat. Hal inilah yang patut dipertimbangkan solusinya. Di sinilah saatnya pemerintah mempertimbangkan berbagai hal dalam meningkatkan layanannya ke masyarakat.
Salah satu solusi alternatif dari permasalahan di atas adalah menerapkan sebuah layanan informasi kepada masyarakat yang nantinya dapat mengcover sebagian atau bahkan keseluruhan kebutuhan masyarakat akan informasi yang dibutuhkan. Sesuai topik di atas yakni OPTIMALISASI LAYANAN PUBLIK PEMERINTAHAN GORONTALOBERBASIS E_GOVERNMENT, inilah salah satu alternatif terbaik yang ada saat ini dan terus berkembang sesuai tingkat kebutuhan.
Mengapa E_Government?
Saat ini teknologi informasi merupakan salah satu option yang dapat diunggulkan dalam menunjang berbagai produktifitas sebuah layanan, yang awalnya konvensional dapat di tingkatkan dengan layanan berbasis komputerisasi, guna efisiensi serta efektifitas kerja di samping itu juga ekonomis. Hal ini sudah merupakan kesepakatan semu yang ada serta berkembang saat ini olehnya banyak pihak (pemerintah) di Indonesia yang mulai mengembangkan layanan E_Government-nya untuk dapat mengcover, setidaknya sebagian dari kebutuhan informasi tidak hanya masyarakat lokal melainkan masyarakat international sekalipun.
Sebagai contoh, pemerintah kota Batu dan pemerintah Kab Malang. Ini salah satu contoh kecil daerah-daerah yang telah berhasil dengan layanan E_Government-nya, dimana mereka memberikan layanan yang tidak tangung-tangung bahkan memberanikan untuk transparansi kinerja pemerintah mereka dapat dilihat melalui layanan E_Government.
Olehnya pemerintah Gorontalo pun perlu memikirkan kearah sana melihat kondisi saat ini layanan E_Government yang diterapkan di pemerintah gorontalo belum optimal. Kalo boleh dibilang baru 25% penerapan E_Government yang telah dijalankan oleh pemerintah gorontalo sebagaimana bisa dilihat pada websitepemerintah gorontalo di http://www.gorontalo.go.id hanya sebagian kecil saja informasi yang dapat dilayani melalui website pemerintah Gorontalo yang notabene adalah salah satu bentuk penerpan E_Gov tersebut.
Bagaimana Seharusnya?
Dalam menerapkan E_Government yang optimal perlu beberapa riset khusus namun secara umum E_Government yang baik adalah dapat memfasilitasi berbagai kebutuhan masyarakat akan informasi. Disini perlu diterapkan sebuah pusat interaksi daerah atau sering disebut Citizen Interaction Center (CIC) yang nantinya akan menampung seluruh informasi daerah misalnyaGorontalo, sehingga seluruh informasi akan diproses oleh CIC dan akan mempublishnya ke dalam layananE_Government.
CIC merupakan center informasi yang dapat di akses dengan berbagai macam cara antara laintelp, sms, dan internet. Namun kali ini kita hanya membahas tentang cara melalui Internet dalam hal ini mengunakan fasilitas website. Syarat utama berhasil tidaknya layanan ini (CIC)terletak pada mampu tidaknya pemerintah mengintegrasikan data secara lintas sektoral keseluruhan produk-produk E_Government yang akan ditawarkan oleh institusi-institusi terkait. Dengan kata lain, diperlukan sistem backoffice dalam penanganan ini.
Dikatakan lintas sektoral karena data atau informasi yang akan di publish bukan hanya bersumber dari pemerintah saja, melainkan dari berbagai sumber, misalnya data Dinas pendidikan, Dinas Kebudayaan, Keuangan Daerah, hingga sampai ke Dinas pertanahan sekalipun bahkan tidak menutup kemungkinan sampai ke berbagai dinas-dinas terkait lainnya. Ini akan memberikan warna lain bagi pemerintahan Gorontalo kedepannya.
Apakah hasil yang akan di peroleh dari penerapan E_Government secara maksimal? Banyak hal yang akan diperoleh dengan di optimalkan layanan publik berbasis e_gov ini, misalnya: Efisiensi media layanan ke masyarakat. Ketersediaan sumber informasi yang dapat di akses kapan saja dan dimana saja (selama tersedia koneksi internet, guna akses ke e_government).
Sebagai bukti keseriusan pemerintah serta pihak terkait dalam melayani masyarakat dengan secara total. Sebagai bentuk tranparansi informasi.dan lain sebagainya. Banyak hal yang dapat di peroleh dari penerapan teknologi informasi ke dalam kinerja pemerintah, namun sejauh mana hasil yang akan diperoleh hal ini akan diperoleh dari sejauh mana pemerintah dan pihak-pihakterkait dalam memberikan informasi secara luas dan terbuka.
Showing posts with label teknologi. Show all posts
Showing posts with label teknologi. Show all posts
Saturday, August 11, 2007
Aplikasi IT di UNG
Arbyn Dungga
2 Okt 06
Saya mencoba untuk sedikit membahas topik minggu ini urut berdasarkan pertanyaan2 utama moderator, tapi sekedar penjelasan, tidak untukmenyimpulkan.
Pertama, perubahan IKIP menjadi UNG telah membuka kesempatan perguruan tinggi ini membuka fakultas dan program studi non kependidikan. FPTK diubah menjadi fakultas teknik. Fakultas pertanian juga telah dibuka. Program studi yang non kependidikan tentu saja dibutuhkan untuk mendidik tenaga2 non guru dalam mengisi lapangan kerja di gorontalo.
Walaupun rata2 prodi yang non kependidikan masih tingkatan D3, tapi saya rasa kebutuhan di Gorontalo saat ini adalah tenaga lapangan yang siap merefleksikan ilmu dari bangku kuliah. Tidak ada catatan resmi tentang alumni program diploma ini yang berkecimpung di dunia kerja di Gorontalo. Tapi saya pribadi sempat melihat sendiri alumni D3 Akuntansi ada di sektor perbankan, jasa perdagangan, bagian akunting berbagai perusahaan kecil maupun menengah. Alumni dari D3 manajemen informatika banyak juga yang berkarir di bagian IT beberapa perusahaan di Gorontalo.
Dari sisi lain, perubahan IKIP menjadi UNG telah banyak menampung alumni2 HPMIG (yang kebanyakan dari ilmu terapan dan murni) dari berbagai kota di Indonesia menjadi tenaga akademis (dosen) di perguruan tinggi ini. Tentu saja mereka tidak hanya sekedar menjadi dosen tapi juga banyak terlibat dalam berbagai kegiatan pembangunan di provinsi yang memang membutuhkan disiplin ilmu mereka.
Sisi negatif perubahan IKIP menjadi UNG adalah ketidaksiapan mental pengelola perguruan tinggi ini sehingga model2 pengelolaan terpusat yang selama ini dianut oleh IKIP masih terbawa hingga menjadi UNG.
Kedua, apakah UNG terbelakang di Sulawesi? Bulan juli 2006 lalu saya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan beberapa rekan pengelola IT seperti UNSRAT, UNHALU, UNRAM, UNMUL, dan satu lagi saya lupa. Saat itu di UGM kami mengikuti pelatihan pengelolaan jaringan untuk Indonesian Higher Education Network (INHERENT) dimana semua PT tadi termasuk UNG adalah salah satu simpul lokalnya. Dari pertemuan ini terungkap bahwa UNG adalah satu2nya perguruan tinggi yang memiliki akses jaringan LAN sampai ke tingkat jurusan dan satu2nya yang telah mengaplikasikan teknologi VOIP dari semua peserta pelatihan. Sehingga ketika pelatihan, peserta lain hanya menganga-nganga saja mendengar penjelasan teknis aplikasi VOIP dan jaringan, bahkan hanya ayik main internet.
Mungkin di Sulawesi, untuk teknologi, kita hanya kalah dari UNHAS yang punya bejibun tenaga IT. Tapi untuk terus maju uNG saat ini telah memiliki Sistem Informasi Akademik yang sedang diujicobakan dan terus dikembangkan. Awal November nanti akan coba diaplikasikan SMS Akademik dan e-learning. Untuk e-learning sendiri sebetulnya sudah ada sejak tahun 2003, tapi sekarang akan diintegrasikan sistem akademiknya. Insya Allah bulan Oktober ini juga akan diterapkan sistem pengelolaan arsip online, manajemen kehadiran, kepegawaian, keuangan berbasis intranet.
Mungkin itu yang bisa saya sampaikan dari segi dukungan sarana teknologinya, sedangkan dari segi kualitas dosen, pengajaran dan penelitian saya tidak banyak tahu. Terlepas dari itu semua, saya merasa UNG harus banyak berbenah terutama dari segi MENTAL.
2 Okt 06
Saya mencoba untuk sedikit membahas topik minggu ini urut berdasarkan pertanyaan2 utama moderator, tapi sekedar penjelasan, tidak untukmenyimpulkan.
Pertama, perubahan IKIP menjadi UNG telah membuka kesempatan perguruan tinggi ini membuka fakultas dan program studi non kependidikan. FPTK diubah menjadi fakultas teknik. Fakultas pertanian juga telah dibuka. Program studi yang non kependidikan tentu saja dibutuhkan untuk mendidik tenaga2 non guru dalam mengisi lapangan kerja di gorontalo.
Walaupun rata2 prodi yang non kependidikan masih tingkatan D3, tapi saya rasa kebutuhan di Gorontalo saat ini adalah tenaga lapangan yang siap merefleksikan ilmu dari bangku kuliah. Tidak ada catatan resmi tentang alumni program diploma ini yang berkecimpung di dunia kerja di Gorontalo. Tapi saya pribadi sempat melihat sendiri alumni D3 Akuntansi ada di sektor perbankan, jasa perdagangan, bagian akunting berbagai perusahaan kecil maupun menengah. Alumni dari D3 manajemen informatika banyak juga yang berkarir di bagian IT beberapa perusahaan di Gorontalo.
Dari sisi lain, perubahan IKIP menjadi UNG telah banyak menampung alumni2 HPMIG (yang kebanyakan dari ilmu terapan dan murni) dari berbagai kota di Indonesia menjadi tenaga akademis (dosen) di perguruan tinggi ini. Tentu saja mereka tidak hanya sekedar menjadi dosen tapi juga banyak terlibat dalam berbagai kegiatan pembangunan di provinsi yang memang membutuhkan disiplin ilmu mereka.
Sisi negatif perubahan IKIP menjadi UNG adalah ketidaksiapan mental pengelola perguruan tinggi ini sehingga model2 pengelolaan terpusat yang selama ini dianut oleh IKIP masih terbawa hingga menjadi UNG.
Kedua, apakah UNG terbelakang di Sulawesi? Bulan juli 2006 lalu saya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan beberapa rekan pengelola IT seperti UNSRAT, UNHALU, UNRAM, UNMUL, dan satu lagi saya lupa. Saat itu di UGM kami mengikuti pelatihan pengelolaan jaringan untuk Indonesian Higher Education Network (INHERENT) dimana semua PT tadi termasuk UNG adalah salah satu simpul lokalnya. Dari pertemuan ini terungkap bahwa UNG adalah satu2nya perguruan tinggi yang memiliki akses jaringan LAN sampai ke tingkat jurusan dan satu2nya yang telah mengaplikasikan teknologi VOIP dari semua peserta pelatihan. Sehingga ketika pelatihan, peserta lain hanya menganga-nganga saja mendengar penjelasan teknis aplikasi VOIP dan jaringan, bahkan hanya ayik main internet.
Mungkin di Sulawesi, untuk teknologi, kita hanya kalah dari UNHAS yang punya bejibun tenaga IT. Tapi untuk terus maju uNG saat ini telah memiliki Sistem Informasi Akademik yang sedang diujicobakan dan terus dikembangkan. Awal November nanti akan coba diaplikasikan SMS Akademik dan e-learning. Untuk e-learning sendiri sebetulnya sudah ada sejak tahun 2003, tapi sekarang akan diintegrasikan sistem akademiknya. Insya Allah bulan Oktober ini juga akan diterapkan sistem pengelolaan arsip online, manajemen kehadiran, kepegawaian, keuangan berbasis intranet.
Mungkin itu yang bisa saya sampaikan dari segi dukungan sarana teknologinya, sedangkan dari segi kualitas dosen, pengajaran dan penelitian saya tidak banyak tahu. Terlepas dari itu semua, saya merasa UNG harus banyak berbenah terutama dari segi MENTAL.
Subscribe to:
Comments (Atom)






