Muhamad J Fahrani
15 Des 06
Saya tertarik dengan topik tentang Nasib Perempuan Gorontalo ini karena disamping tanggal 22 desember 2006 nanti adalah Hari IBU, kenyataannya dalam kehidupan sehari - hari baik dari lingkungan terkecil yakni keluarga maupun yang terbesar yakni negara, perempuan hampir selalu menjadi obyek penderita dari kaum laki-laki. Setiap hari seluruh media cetak dan elektronik baik lokal maupun nasional selalu mengangkat berita tentang penderitaan (dalam arti luas) yang dialami oleh kaum perempuan, seperti KDRT, Pemerkosaan, bahkan pembunuhan.
Dalam dunia politik pun perempuan masih mengalami berbagai tekanan terutama soal jatah kursi di dewan, dsb. Saya ingin menjawab beberapa pertanyaan dari moderator mengenai masalah ini, sebatas kemampuan dan pengetahuan saya, sehingga jika ada hal - hal yang kurang berkenan harap dimaklumi.
Pertama, masalah mengenai eksistensi perempuan di Gorontalo eksistensi perempuan di Gorontalo terutama dalam bidang birokrasi, pengusaha dan politik sudah cukup baik untuk ukuran propinsi baruseperti Gorontalo ini. Namun, eksistensi tersebut didapatkan terkesan begitu mudah. Di birokrasi (pejabat), ada beberapa jabatan baik propinsi maupun kota/kab diisi oleh kaum perempuan yang didapat bukan karena penilaian kemampuannya, tetapi karena golongan kepangkatan yang telah memenuhi syarat, sehingga latar belakang pendidikan dan jabatan kadang tidak sesuai, seperti Ibu WinarniMonoarfa, tanpa menyangsikan kemampuan manajerial beliau, tapi dengan latar belakang sebagai guru besar ilmu kelautan, alangkah tepatnya jika beliau memegang jabatan sbg Kadis Perikanan danKelautan karena kapasitas keilmuan dan kemampuan beliau dalam bidang ini sudah tidak dapat diragukan lagi.
Memang, harus diakui, bahwa eksistensi beliau sebagai kepala Bappeda sangat mengagumkan mengingat latar belakang pendidikannya, tapi lebih menguntungkan bagi daerah ini jika beliau menjadi kadis Perikanan & Kelautan, apalagi salah satu program unggulan propinsi yakni Perikanan, sekarang ini berjalan statis.
Di politik, banyak perempuan yang duduk di legislatif baik kota/kab sampai propinsi terkesan hanya pemberian (rata2 no urut teratas tapi jmlh suara tidak signifikan) dan latar belakang jabatan suami. IBu Rahmiyati Yahya bisa menjadi salah satu contoh dari kasus ini. Tadinya beliau adalah seorang PNS, namun karena latar belakang jabatan suaminya serta no urut atas maka walaupun jumlah suara pemilihnya kecil beliau tetap jadi anggotaDPRD Prop. Sehingga tak heran, karena latar belakang suaminya tsb, skrg ini beliau terancam direcall dari gedung BOTU, hanya gara2 pada pilkada gubernur lalu suaminya dikabarkan tidak mendukung calon dari partai yang mendudukkan rahmiyati di Botu dan kemungkinan hal ini juga akan berlaku kepada Ibu Kasma Bokings di Pohuwato.
Dengan dua contoh kasus tsb, dapat diambil kesimpulan bahwa, eksistensi kebanyakan perempuan di Gorontalo yang bergelut di Birokrasi, Politik dan Pengusaha masih terdongkrak karena kaum lakis, apalagi kalau melihat perempuans kebanyakan terutama Ibu Rumah Tangga, seringkali terjajah oleh kediktatoran suaminya.
Kedua, harapan terhadap pemerintahan Fadel - Gusnar soal Perempuan. Yang jelas, sesuai latar belakang kedua pemimpin tsb yakni Politikus dan Birokrat, harapan saya agar dalam rekruitment kaum perempuan khususnya dalam bidang politik dan birokrasi harus didasarkan kemampuan dan latar belakang keilmuannya agar nantinya dapat menunjukkan eksistensinya utk kemajuan daerah ini.
Saya juga salut dengan gebrakan rezim ini yang saya lihat di koran yakni rumusan perda tentang perlindungan terhadap perempuan secara umum, dengan harapan agar nantinya dapat dilaksanakan secara konsisten dan bertanggung jawab.
Ketiga, persoalan mendasar perempuan di Gorontalo. Masalah adat - istiadat dalam kehidupan masyarakat gorontalo pada umumnya, fungsi adat masih memegang peranan penting dalam mengatur tingkah laku dan cara hidup masyarakat meskipun untuk masyarakat perkotaan adat sudah mulai terkikis oleh modernisasi dan kapitalisme. Dlm adat Gorontalo, kedudukan perempuan masih dibawah laki2 (walau dalam sejarah Gorontalo banyak perempuans yang menjadi pemimpin) sehingga mengakibatkan perempuans terkesan pasrah dan nrimo apapun yang terjadi baik itu benar atau salah.
Keempat, latar belakang pendidikan. Untuk mengenyam pendidikan terutama formal, para orangs tua terkadang masih berprinsip seperti leluhur dulu, yakni setinggi-tingginya pendidikan yang dimiliki oleh perempuans, toh tetap kembali pada fungsi utamanya yaitu DAPUR, SUMUR, KASUR. tak jarang anak perempuan selepas SMU tidak diperbolehkan kuliah apalagi diluar daerah (meski secara finansial orang tuanya berkecukupan) disampingkarena prinsip tsb, ditambah infos ttg oknums mahasiswis yang kuliah diluar daerah TERKADANG berperilaku HIDUP BEBAS seperti FreeSex dan SamenLeven (tidak semuanya lho), seperti survei di Jogyakarta yangmengatakan 9 dari 10 mahasiswi tlh KEHILANGAN MAHKOTAnya tanpa nikah (maaf kalo ada para milisterwati yang pernah dan sementara kuliah diJogya, karena ini telah menjadi kasus nasional).
Dari 2 contoh kasus diatas, solusinya adalah pengenalan dan penyesuaian adat istiadat harus berdasarkan agama yang dianut karena dalam agama manapun kedudukan perempuans dan lakis adalah "SAMA" dilihat dari sikonnya, serta perlunya bagi anaks perempuan yang ingin melanjutkan pendidikan (terutama diluar daerah ) HARUS mampu menanamkan kepercayaan pada ortunya bahwa dia mampu menjaga kehormatan diri dan keluarga serta harus menunjukkan kemampuan untuk mencapai tujuannya.
Kelima, hals yang harus diperbaiki dari perilaku Isteri-isteri. Stop Karlotaisme. Stop Ba Egisisme (cara make up dan berpakaian). Stop Royalisme (terutama isteri pejabat dan anggota dewan). Stop HUGELISME (bnyk perempuans di NERAKA karena hal ini).
Semoga dengan momen HARI IBU yang tak lama lagi, para perempuansterutama di Gorontalo ini dapat memahami arti yang hakiki tentangkata PEREMPUAN (YANG DIEMPUKAN, YANG DIAGUNGKAN, YANG DIHORMATI dsb)sehingga mampu menjaga kodratnya sebagai perempuan dan mampumenunjukkan jati dirinya agar tidak gampang dilecehkan oleh paraBUAYA DARAT. Untuk perempuans yang telah berkeluarga, JAGALAHKEHORMATAN DIRI, SUAMI DAN KELUARGA seperti dalam Hadits Nabi SAW,yg artinya DUNIA ADALAH PERHIASAN, DAN PERHIASAN YANG TERBAIK ADALAHISTERI YANG SHALIHAH. Dan bagi yang "MASIH GADIS", pandaislahmembawa diri agar tidak terjerumus ke lembah nista.Akhirnya, kepada seluruh milisterwati (te Nino tdk termasuk) mohonmaaf kalo ada yang menyinggung andas dan semoga hari IBU bukan hanyadilaksanakan setiap tgl 22 Desember tapi HARUS dilaksanakan setiaphari. TEGAKNYA AGAMA, NEGARA DAN KELUARGA ADALAH DITANGAN PEREMPUAN,RUNTUHNYA PUN KARENA PEREMPUAN. Salam damai untuk kalian semua.
Showing posts with label perempuan. Show all posts
Showing posts with label perempuan. Show all posts
Saturday, August 11, 2007
Nasib Perempuan Gorontalo
Dewi Dama
13 Des 06
Berikut pendapat saya tentang perempuan Gorontalo. Mohon terlebih dahulu dimaafkan sekiranya ada salah kata or terlalu menjeneralisir karena saya juga masih belajar.
1. Bagaimana Anda melihat eksistensi perempuan Gorontalo sekarang ini? Baguskah? Atau justeru menyedihkan? >>>>> Perlu ada pembanding.
Dulu: Oleh minimnya perhatian para orang tua terhadap pendidikan, pengetahuan para perempuan melulu soal urusan domestik. Perempuan ibarat budak belian, diperistri untuk sepenuhnya tunduk pada suaminya meski dimadu, dijadikan madu, atau dicampakkan. Secuil saja mereka diberdayakan hanya untuk menghafal kalimat-kalimat dogmatis tanpa bisa mengepakkan nalarnya. Perempuan nyaris tak pusing berorganisasi dan umumnya memiliki kelompok perkawanan atas nama status social (wala’ita yi’o). Perempuan dulu lebih senang berbahasa Gorontalo, mengolah penganan dari hasil pangan milik keluarganya, mohuyula molobu’a pale e’elenggengiyo wala’o didingga limongoliyo (mohutu tutulu, duduli, nasi bulu,dll)
Sekarang: Wanita eksis bo'. Jumlah perempuan selalu mendominasi ruang kelas-kelas dari TK- PT (pendidikan), meski keberadaannya di ruang politik dan manajerial masih minoritas. Soal kualitasnya, hhmmm, saya tak berani menjustifikasi, kecuali atas dasar hasil penelitian. Kartini kini prihatin dengan perempuan-perempuan yang 'mampu' lebih banyak mengedepankan dandanan/busana ketimbang mengasah ilmu pengetahuan meski Kartini tahu benar, it’s just a matter of choice and chance. Fakta lain, salah satu keajaiban perempuan, adalah menjadi penyebab dan target inovasi (macam-macamlah, simak saja iklan). Perubahan kulturnya lumayan. Akibat perkembangan teknologi dan peningkatan fasilitas hidup, secara pelan (incremental) merubah cara pandang dan gaya hidup perempuan kita. Contohnya, tak sedikit perempuan yang enggan dimadu bahkan semakin percaya diri menggugat cerai suaminya. Dulu, mana berani perempuan protes. Saya kira, asumsi bahwa perempuan sekarang suka nuntut ini-itu, relatif kebenarannya. Bisa aja asumsinya dari pihak yang terusik privasinya saja. .
2. Apa harapan Anda terhadap pemerintahan (Fadel-Gusnar periode kedua,khususnya), terutama mengenai kebijakan mereka untuk kaum perempuandan anak-anak?
a) It’s all about money! Anggaran pendidikan dan kesehatan mesti prioritaslah. Siswa SLTA saja pikirannya dah jauh ke sana. Jangan tunggu anak TK yang nuntut peningkatan pendidikan.
b) Money is nonsense without achievement. Kebijakan jelas. skopnya setiap tahun ditetapkan, pengawasan dan pertanggungjawabannya credible dan berkelanjutan. Mis: beasiswa untuk peningkatan kualitas pendidikan umumnya atau kursus keterampillan mereka yg putus sekolah. (Beasiswa luar negeri semakin banyak membuka peluang untuk Studi Gender, Pendidikan, Lingkungan, dll. Seandainya pemerintah bekerja sama dgn Perguruan tinggi untuk mengalokasikan dana untuk test TOEFL/IELTS yang mahal itu bagi para pelamar beasiswa, tentu kesempatan pendidikan di LN makin bagus.)
c) Di imej saya, sejak 5 thn lalu para penanam modal sudah masuk Gorontalo. Please, mestinya lapangan kerja (usaha kerja) bagi kaum perempuan kita semakin dibuka karena banyak kok yang sibuk cari tambahan nafkah untuk keluarganya. Sifat manusia kan kalo dipenuhi hak aktualisasi dirinya, ia akan stay cool ..iya kan?
3. Apa persoalan mendasar perempuan Gorontalo, dan bagaimana langkahkongkrit yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah itu? Program jangka panjang boleh, jangka pendek juga boleh....
v Pendidikan
Ø buta huruf: kampanye pendidikan terpadu melalui sekolah, tempat ibadah, iklan (multimedia), poster.
Ø keluarga yatim: bantuan dana biaya sekolah (gratis).
Ø kesempatan pengembangan diri: kursus keterampilan workshop, mentor, dll. Para guru/pegawai berprestasi, olahragawan berprestasi, alumni PT berprestasi, seniman dan keluarga berprestasi dll, perlu memperoleh dukungan pemerintah seperti di undang saat upacara besar, di sediakan kesempatan untuk ‘talk show’ untuk masukan ke masyarakat, diikutkan dalam parade penting, disalurkan aspirasinya, bukan sekedar diberi “petunjuk” (istilah le Boh cerita Elnino).
v kesehatan
Ø ibu hamil dan menyusui: imunisasi ibu dan balita ,kampanye kesehatan terpadu: simulasi, poster.
Ø keluarga berpenghasilan rendah: bantuan pengembangan usaha, layanan gratis di puskesms dan sekolah. pelatihan keterampilan keluarga: boga, kebun hijau, dll
Ø kenyamanan kerja pegawai: Inovasi Bimbingan dan Konseling, peningkatan insentif kerja lembur/jaga malam.
v pengangguran
Ø meningkatkan pengetahuan para perempuan tentang usaha kerja sesuai ‘core competence’ masing2 daerah tk.II (agropolitan, maritim, dll.)
Ø menyediakan lapangan kerja/modal: memediasi pekerja dan pasaran (e-gov), menarik investor (perusahaan), akses informasi bisnis.
v Kesejahteraan sosial & hiburan
Ø tuntutan kebutuhan hidup: pasar murah menjelang hari-hari besar, inventarisir agen-agen minyak tanah, dll.
Ø stres: 1) layar tancep di desa-desa, selain itu, 2) merangsang pengembangan keterampilan, seni dan budaya: karawo kait, tari-tarian, dll. Dulu, sewaktu SD, organisasi seperti karang taruna sangat diberdayakan di kampung-kampung untuk kegiatan lomba. Saban pergelaran seni, yang pesertanya kebanyakan siswa SD/SMP, para Ibu sibuk melibatkan diri. Ada yang seketika jadi pelatih tari-tarian, vocal group, dll. Saya ingat betul kegigihan hati para pembinanya, ceria bersama anak-anak peserta lomba. Padahal kalo di cek ricek, di antara para ibu itu, beberapa ‘ja’o ijazah to ulu’u”, tapi, begitulah. Jempol untuk mereka. Hebat!!
13 Des 06
Berikut pendapat saya tentang perempuan Gorontalo. Mohon terlebih dahulu dimaafkan sekiranya ada salah kata or terlalu menjeneralisir karena saya juga masih belajar.
1. Bagaimana Anda melihat eksistensi perempuan Gorontalo sekarang ini? Baguskah? Atau justeru menyedihkan? >>>>> Perlu ada pembanding.
Dulu: Oleh minimnya perhatian para orang tua terhadap pendidikan, pengetahuan para perempuan melulu soal urusan domestik. Perempuan ibarat budak belian, diperistri untuk sepenuhnya tunduk pada suaminya meski dimadu, dijadikan madu, atau dicampakkan. Secuil saja mereka diberdayakan hanya untuk menghafal kalimat-kalimat dogmatis tanpa bisa mengepakkan nalarnya. Perempuan nyaris tak pusing berorganisasi dan umumnya memiliki kelompok perkawanan atas nama status social (wala’ita yi’o). Perempuan dulu lebih senang berbahasa Gorontalo, mengolah penganan dari hasil pangan milik keluarganya, mohuyula molobu’a pale e’elenggengiyo wala’o didingga limongoliyo (mohutu tutulu, duduli, nasi bulu,dll)
Sekarang: Wanita eksis bo'. Jumlah perempuan selalu mendominasi ruang kelas-kelas dari TK- PT (pendidikan), meski keberadaannya di ruang politik dan manajerial masih minoritas. Soal kualitasnya, hhmmm, saya tak berani menjustifikasi, kecuali atas dasar hasil penelitian. Kartini kini prihatin dengan perempuan-perempuan yang 'mampu' lebih banyak mengedepankan dandanan/busana ketimbang mengasah ilmu pengetahuan meski Kartini tahu benar, it’s just a matter of choice and chance. Fakta lain, salah satu keajaiban perempuan, adalah menjadi penyebab dan target inovasi (macam-macamlah, simak saja iklan). Perubahan kulturnya lumayan. Akibat perkembangan teknologi dan peningkatan fasilitas hidup, secara pelan (incremental) merubah cara pandang dan gaya hidup perempuan kita. Contohnya, tak sedikit perempuan yang enggan dimadu bahkan semakin percaya diri menggugat cerai suaminya. Dulu, mana berani perempuan protes. Saya kira, asumsi bahwa perempuan sekarang suka nuntut ini-itu, relatif kebenarannya. Bisa aja asumsinya dari pihak yang terusik privasinya saja. .
2. Apa harapan Anda terhadap pemerintahan (Fadel-Gusnar periode kedua,khususnya), terutama mengenai kebijakan mereka untuk kaum perempuandan anak-anak?
a) It’s all about money! Anggaran pendidikan dan kesehatan mesti prioritaslah. Siswa SLTA saja pikirannya dah jauh ke sana. Jangan tunggu anak TK yang nuntut peningkatan pendidikan.
b) Money is nonsense without achievement. Kebijakan jelas. skopnya setiap tahun ditetapkan, pengawasan dan pertanggungjawabannya credible dan berkelanjutan. Mis: beasiswa untuk peningkatan kualitas pendidikan umumnya atau kursus keterampillan mereka yg putus sekolah. (Beasiswa luar negeri semakin banyak membuka peluang untuk Studi Gender, Pendidikan, Lingkungan, dll. Seandainya pemerintah bekerja sama dgn Perguruan tinggi untuk mengalokasikan dana untuk test TOEFL/IELTS yang mahal itu bagi para pelamar beasiswa, tentu kesempatan pendidikan di LN makin bagus.)
c) Di imej saya, sejak 5 thn lalu para penanam modal sudah masuk Gorontalo. Please, mestinya lapangan kerja (usaha kerja) bagi kaum perempuan kita semakin dibuka karena banyak kok yang sibuk cari tambahan nafkah untuk keluarganya. Sifat manusia kan kalo dipenuhi hak aktualisasi dirinya, ia akan stay cool ..iya kan?
3. Apa persoalan mendasar perempuan Gorontalo, dan bagaimana langkahkongkrit yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah itu? Program jangka panjang boleh, jangka pendek juga boleh....
v Pendidikan
Ø buta huruf: kampanye pendidikan terpadu melalui sekolah, tempat ibadah, iklan (multimedia), poster.
Ø keluarga yatim: bantuan dana biaya sekolah (gratis).
Ø kesempatan pengembangan diri: kursus keterampilan workshop, mentor, dll. Para guru/pegawai berprestasi, olahragawan berprestasi, alumni PT berprestasi, seniman dan keluarga berprestasi dll, perlu memperoleh dukungan pemerintah seperti di undang saat upacara besar, di sediakan kesempatan untuk ‘talk show’ untuk masukan ke masyarakat, diikutkan dalam parade penting, disalurkan aspirasinya, bukan sekedar diberi “petunjuk” (istilah le Boh cerita Elnino).
v kesehatan
Ø ibu hamil dan menyusui: imunisasi ibu dan balita ,kampanye kesehatan terpadu: simulasi, poster.
Ø keluarga berpenghasilan rendah: bantuan pengembangan usaha, layanan gratis di puskesms dan sekolah. pelatihan keterampilan keluarga: boga, kebun hijau, dll
Ø kenyamanan kerja pegawai: Inovasi Bimbingan dan Konseling, peningkatan insentif kerja lembur/jaga malam.
v pengangguran
Ø meningkatkan pengetahuan para perempuan tentang usaha kerja sesuai ‘core competence’ masing2 daerah tk.II (agropolitan, maritim, dll.)
Ø menyediakan lapangan kerja/modal: memediasi pekerja dan pasaran (e-gov), menarik investor (perusahaan), akses informasi bisnis.
v Kesejahteraan sosial & hiburan
Ø tuntutan kebutuhan hidup: pasar murah menjelang hari-hari besar, inventarisir agen-agen minyak tanah, dll.
Ø stres: 1) layar tancep di desa-desa, selain itu, 2) merangsang pengembangan keterampilan, seni dan budaya: karawo kait, tari-tarian, dll. Dulu, sewaktu SD, organisasi seperti karang taruna sangat diberdayakan di kampung-kampung untuk kegiatan lomba. Saban pergelaran seni, yang pesertanya kebanyakan siswa SD/SMP, para Ibu sibuk melibatkan diri. Ada yang seketika jadi pelatih tari-tarian, vocal group, dll. Saya ingat betul kegigihan hati para pembinanya, ceria bersama anak-anak peserta lomba. Padahal kalo di cek ricek, di antara para ibu itu, beberapa ‘ja’o ijazah to ulu’u”, tapi, begitulah. Jempol untuk mereka. Hebat!!
Tentang Prostitusi Remaja Gorontalo
Arifin Suaib
5 Nov 06
Menyedihkan memang, apalagi kalau kita membayangkan (seandainya) mereka itu adalah anak kita, ponakan kita, adik kita, teman kita (bisa dapat diskon dong...! :) ), atau paling tidak orang yang kita kenal, kita akan lebih tidak nyaman lagi. Maka hikmah terpenting dibahasnya topik ini adalah kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah penyakit sosial ini agar jangan sampai terjadi pada keluarga kita (Na'udzubillah). Karena menurut saya penyebab utama adalah faktor kurangnya kontrol orang tua (setuju dengan Asriyati NN).
Praktek komersialisasi birahi yang dilakukan oleh perempuan usia belasan (PUB) sebenarnya memiliki motif serta melalui proses yang sama dengan perempuan dewasa. Yang berbeda hanya tingkat kemungkinan intervensi pihak lain terhadap pilihan mereka dalam bersikap, perempuan dewasa lebih berani dan bebas sedangkan PUB dapat dikendalikan orang tua. Umumnya perempuan yang akhirnya terjun ke dunia komersialisasi birahi tersebut melalui tahapan sbb :
Pertama, Pengenalan :Ketika seorang mengalami perkembangan biologis maka dia akan berusaha mengenal seks. Dorongan ini membuat dia mendekati faktor pemicu seperti :
a) Pornografi (dampak teknologi), dapat terjadi bila orang tua tidak mengontrol surfing internet, tontonan dan bacaan anak.
b) Salah bergaul, dapat terjadi bila orang tua tidak mengontrol frekuensi anak keluar rumah termasuk dalam memilih teman bergaulnya.
Ini problem besar bagi orang tua yang anaknya harus tinggal diasrama/kost. (Terkecuali bila asramanya dikelola secara khusus, misalnya punya mushollah yang aktif sholat 5 waktu, memiliki ustadz/imamnya sendiri, yang melakukan pembinaan akhlak kepada anak-anak kost, latihan kultum, pengajian rutin, dll. )
Kedua, Coba-coba.
a) Pacaran. Anak-anak putri biasanya lebih cepat mengalami masa pacaran dari pada putra. Ini terjadi karena secara psikologis anak-anak yang sedang mengalami puber ingin segera mendapatkan pengakuan sebagai orang dewasa, maka dia akan bangga bila dipacari oleh orang yang lebih dewasa daripada dia. Sebaliknya laki-laki (yang lebih matang) akan sangat bangga bila pacarnya PUB. Inilah alasan mengapa banyak PUB yang pacaran dengan laki-laki dewasa (bahkan laki-laki beristri). Bisa dibayangkan bagaimana proses pendewasaan yang prematur itu terjadi pada sang PUB ketika menjadi pacar laki-laki yang sudah ahli dalam menaklukkan perempuan, sementara PUB itu sendiri memang sedang ingin bereksperimen dengan pengalaman-pengalaman barunya.
b) Brokenheart. Problematika pacaran dan problematika rumah tangga akan mendukung proses coba-coba ini.
Ketiga, Terbiasa.
a) Keterlanjuran. Apabila hal tersebut terjadi lebih sering dan tanpa kontrol orang tua maka akan berkembang menjadi kebiasaan, selanjutnya tinggal menunggu 'kecelaklaan'.
b) Gonta-ganti pacar.
Keempat, Komersialisasi.
a) Memanfaatkan kebiasaan. Karena sudah terbiasa dan bisa menghasilkan uang,"Why not?"
b) Dukungan gengsi. Desakan kebutuhan untuk bergaya hidup mewah. Pada tahap ini baru motif finansial akan dominan.
Untuk mengurangi merebaknya penyakit sosial ini menurut saya adalah meningkatkan peran orang tua dalam mengontrol, merancang program perbaikan moral dan mengarahkan anak-anaknya untuk membiasakan diri dengan kegiatan keagamaan : pengajian, mentoring, harokah remaja dll.
Berpikir beda dengan Bung Nino, saya yakin bahwa treatment lebih utama yang bisa dilakukan adalah mengurangi/menghilangkan supplier (PUB itu). Memang supply dan demand biasanya terjadi secara simultan, tetapi bila demand (permintaan) tinggi dan supply (penawaran) terbatas atau tidak ada, maka konsumen terpaksa akan mencari substitusi (barangpengganti : poligami) atau tidak mengkonsumsi sama sekali (setia dengan istri).
Tetapi bila penawaran ada dalam keadaan permintaan awal rendah pun, maka konsumen pada akhirnya akan bertambah juga sebagai akibat adanya ekspansi pasar (orang yang ba coba-coba). Saya berkeyakinan bahwa motif ekonomi baru terjadi setelah mencapai tahap yang lebih tinggi, sedangkan pada tahap awal yang bekerja adalah motif biologis dan motif sosial.
5 Nov 06
Menyedihkan memang, apalagi kalau kita membayangkan (seandainya) mereka itu adalah anak kita, ponakan kita, adik kita, teman kita (bisa dapat diskon dong...! :) ), atau paling tidak orang yang kita kenal, kita akan lebih tidak nyaman lagi. Maka hikmah terpenting dibahasnya topik ini adalah kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah penyakit sosial ini agar jangan sampai terjadi pada keluarga kita (Na'udzubillah). Karena menurut saya penyebab utama adalah faktor kurangnya kontrol orang tua (setuju dengan Asriyati NN).
Praktek komersialisasi birahi yang dilakukan oleh perempuan usia belasan (PUB) sebenarnya memiliki motif serta melalui proses yang sama dengan perempuan dewasa. Yang berbeda hanya tingkat kemungkinan intervensi pihak lain terhadap pilihan mereka dalam bersikap, perempuan dewasa lebih berani dan bebas sedangkan PUB dapat dikendalikan orang tua. Umumnya perempuan yang akhirnya terjun ke dunia komersialisasi birahi tersebut melalui tahapan sbb :
Pertama, Pengenalan :Ketika seorang mengalami perkembangan biologis maka dia akan berusaha mengenal seks. Dorongan ini membuat dia mendekati faktor pemicu seperti :
a) Pornografi (dampak teknologi), dapat terjadi bila orang tua tidak mengontrol surfing internet, tontonan dan bacaan anak.
b) Salah bergaul, dapat terjadi bila orang tua tidak mengontrol frekuensi anak keluar rumah termasuk dalam memilih teman bergaulnya.
Ini problem besar bagi orang tua yang anaknya harus tinggal diasrama/kost. (Terkecuali bila asramanya dikelola secara khusus, misalnya punya mushollah yang aktif sholat 5 waktu, memiliki ustadz/imamnya sendiri, yang melakukan pembinaan akhlak kepada anak-anak kost, latihan kultum, pengajian rutin, dll. )
Kedua, Coba-coba.
a) Pacaran. Anak-anak putri biasanya lebih cepat mengalami masa pacaran dari pada putra. Ini terjadi karena secara psikologis anak-anak yang sedang mengalami puber ingin segera mendapatkan pengakuan sebagai orang dewasa, maka dia akan bangga bila dipacari oleh orang yang lebih dewasa daripada dia. Sebaliknya laki-laki (yang lebih matang) akan sangat bangga bila pacarnya PUB. Inilah alasan mengapa banyak PUB yang pacaran dengan laki-laki dewasa (bahkan laki-laki beristri). Bisa dibayangkan bagaimana proses pendewasaan yang prematur itu terjadi pada sang PUB ketika menjadi pacar laki-laki yang sudah ahli dalam menaklukkan perempuan, sementara PUB itu sendiri memang sedang ingin bereksperimen dengan pengalaman-pengalaman barunya.
b) Brokenheart. Problematika pacaran dan problematika rumah tangga akan mendukung proses coba-coba ini.
Ketiga, Terbiasa.
a) Keterlanjuran. Apabila hal tersebut terjadi lebih sering dan tanpa kontrol orang tua maka akan berkembang menjadi kebiasaan, selanjutnya tinggal menunggu 'kecelaklaan'.
b) Gonta-ganti pacar.
Keempat, Komersialisasi.
a) Memanfaatkan kebiasaan. Karena sudah terbiasa dan bisa menghasilkan uang,"Why not?"
b) Dukungan gengsi. Desakan kebutuhan untuk bergaya hidup mewah. Pada tahap ini baru motif finansial akan dominan.
Untuk mengurangi merebaknya penyakit sosial ini menurut saya adalah meningkatkan peran orang tua dalam mengontrol, merancang program perbaikan moral dan mengarahkan anak-anaknya untuk membiasakan diri dengan kegiatan keagamaan : pengajian, mentoring, harokah remaja dll.
Berpikir beda dengan Bung Nino, saya yakin bahwa treatment lebih utama yang bisa dilakukan adalah mengurangi/menghilangkan supplier (PUB itu). Memang supply dan demand biasanya terjadi secara simultan, tetapi bila demand (permintaan) tinggi dan supply (penawaran) terbatas atau tidak ada, maka konsumen terpaksa akan mencari substitusi (barangpengganti : poligami) atau tidak mengkonsumsi sama sekali (setia dengan istri).
Tetapi bila penawaran ada dalam keadaan permintaan awal rendah pun, maka konsumen pada akhirnya akan bertambah juga sebagai akibat adanya ekspansi pasar (orang yang ba coba-coba). Saya berkeyakinan bahwa motif ekonomi baru terjadi setelah mencapai tahap yang lebih tinggi, sedangkan pada tahap awal yang bekerja adalah motif biologis dan motif sosial.
Labels:
arifin suaib,
artikel,
budaya,
perempuan,
sosial
Wajah Perempuan Kita
Ani Sekarningsih
2 Nov 06
MENGERIKAN. Padahal perempuan adalah IBU BANGSA. Bagaimana anak-anak yang terlahir di masa mendatang? Lalu sejauh apa usaha pendidikan orangtua dan agama yang selalu menggaungkan surga-neraka meluruskan ini semua? Ingin aku cerita masalah di Aceh, oom-oom dan tante-tante. Kurang bagaimana polisi syareat di Aceh galaknya? Orang baik-baik saja pun artinya yang jelas suami-istri sering dituduh pelacur. Mobil-mobil adakalanya distop, lalu penumpang perempuan dilihat cara berpakaiannya.
Namun apakah selesai urusan moral di ACEH? Malah tambah mengerikan! Gadis-gadis berjilbab semakin binal, menjajakan dirinya dengan mudah. Banyak yang hamil, tanpa menikah Bayangin!Pendidikan chanel tivi semestinya menjadi kepedulian departemen pendidikan nasional. Karena acara-acara sinetron TIDAK MENDIDIK anak bangsa untuk menjadi manusia produktif dan membangun cita-cita mulia.
Contohlagi. Para dokter muda yang baru lulus, boro-boro senang dikirimkan sebagai dokter PTT ke tempat-tempat terpencil untuk mengabdi. Atau sekalinya mau dikirim ke Aceh, karena berhitung: enak euy Cuma 6 bulan di Aceh. Lalu mereka kembali ke Jakarta dan bisa meneruskan sekolah sebagai dokter ahli. Ketika sdh jadi dokter ahli, boro-boro mau balik ke tempat terpencil yang gak ada mall, mobil BMW dan rumah semegah rumah-rumah di Pondok Indah. Para dokter ahli lebih suka praktek di kota besar untuk mudah menggebuk duitnya pasien yang merana dan putus asa, kan?
Terimalah kenyataan. Cita-cita anak-anak muda sekarang pada intinya kan bagaimana memperoleh bawang-barang mewah dan bergengsi, makanan enak dan unik dan juga bergengsi, naik mobil bermerk yang juga menetapkan gengsi. Karena hal itu yang sedang ditawarkan di kota-kota besar Indonesia. Pendidikan moral, pendidikan sekolah, khotbah-khotbah kiai/ustadz tidak memberikan motivasi anak-anak kita untuk menjadi manusia produktif. Dari 200 juta anak bangsa ini, para ilmuwan dan ekonom Indonesia hanya bisa dihitung dengan jari dibanding mereka yang hidup membuang-buang waktu di mall-mall.
Anak-anak muda seleranya saat ini TIDAK MAU KERJA KERAS, tetapi lebih membesarkan hidup bergengsi, sebagaimana dicontohkan orang tua mereka sendiri. Sudah saatnya ditemukan suatu strategi tepat-guna para pendidik menemukan resep tepat guna agar manusia Indonesia harus menjadi manusia yang produktif, serta mensejahterakan banyak orang, menjaga keharmonisan sesama mahluk hidup menjaga keindahan alamiah segala sesuatu. Betapa perlunya menjadi MANUSIA YANG BERPIKIR dan MENINGKATKAN KESADARANLUHUR bukan jadi manusia yang membebek dengan budaya orang luar.
Kiranya membangun moral diri bukan lagi dengan membuat organisasi baru seperti polisi syareat, atau berkoar-koar bahasa slogan dengan dogma-dogma kaku, tetapi saatnya para kiai, orangtua, guru harus menjadikan dirinya CONTOH konkrit sebagai idola kawula muda dan lingkungannya. Menentukan sikap hidup dengan mendekati sifat-sifat Tuhan yang 99 itu ( dan BUKAN SEKEDAR CUMA DIZIKIRIN JUTA-JUTA KALI tapi moral tetap memalukan). Para kiai hendaknya mengubah cara berdakwah... bukan lagi menyajikan menu yang cuma nakut-nakuti massa jemaah dengan urusan surga-neraka yang entah di mana alamatnya. BASI-lah itu.
Ini zamannya dibutuhkan para kiai/guru/orangtua yang cerdas dan bijak dengan menguasai perkembangan ilmu mutakhir, yang mengerti perkembangan teknologi mutakhir. Dibutuhkan kiai yang NGETREND DENGAN PERKEMBANGAN ZAMAN yang memberikan inovasi dan motivasi membangun mental luhur bukan kiai yang cuma berpatokan pada BUKU KUNING belaka dan lantang mendakwahkan surga-neraka 'mulu' (katabetawi: melulu). Kalau saja ada orang mati bangkit dan hidup lagi serta memberikan pembuktian adanya surga-neraka, dakwah dengan resep surga-neraka pasti jadi makanan favorit, ditanggung laris manis tanjung kimpul.
Kalau bapak-bapak PEJABAT REPUBLIK INDONESIA,PARA SUDAGAR YANG BERPECI/ BERSORBAN dan PARA KIAI BERGAMIS MEMBERIKAN TETAP CONTOH BURUK dengan telak depan mata dan menjadi objek berita tivi MEREBUT ISTRI ORANG DAN MENGUBER PERAWAN-PERAWAN CANTIK. Ya...... good bye-lah MORAL LUHUR... Bahwa perempuan Indonesia, yang calon IBU BANGSA, hanya mampu menghargakan dirinya sebagai pelacur, sebagai TKW yaaaaa.... bisa kita bayangkan wajah Indonesia 50 tahun ke depan...
2 Nov 06
MENGERIKAN. Padahal perempuan adalah IBU BANGSA. Bagaimana anak-anak yang terlahir di masa mendatang? Lalu sejauh apa usaha pendidikan orangtua dan agama yang selalu menggaungkan surga-neraka meluruskan ini semua? Ingin aku cerita masalah di Aceh, oom-oom dan tante-tante. Kurang bagaimana polisi syareat di Aceh galaknya? Orang baik-baik saja pun artinya yang jelas suami-istri sering dituduh pelacur. Mobil-mobil adakalanya distop, lalu penumpang perempuan dilihat cara berpakaiannya.
Namun apakah selesai urusan moral di ACEH? Malah tambah mengerikan! Gadis-gadis berjilbab semakin binal, menjajakan dirinya dengan mudah. Banyak yang hamil, tanpa menikah Bayangin!Pendidikan chanel tivi semestinya menjadi kepedulian departemen pendidikan nasional. Karena acara-acara sinetron TIDAK MENDIDIK anak bangsa untuk menjadi manusia produktif dan membangun cita-cita mulia.
Contohlagi. Para dokter muda yang baru lulus, boro-boro senang dikirimkan sebagai dokter PTT ke tempat-tempat terpencil untuk mengabdi. Atau sekalinya mau dikirim ke Aceh, karena berhitung: enak euy Cuma 6 bulan di Aceh. Lalu mereka kembali ke Jakarta dan bisa meneruskan sekolah sebagai dokter ahli. Ketika sdh jadi dokter ahli, boro-boro mau balik ke tempat terpencil yang gak ada mall, mobil BMW dan rumah semegah rumah-rumah di Pondok Indah. Para dokter ahli lebih suka praktek di kota besar untuk mudah menggebuk duitnya pasien yang merana dan putus asa, kan?
Terimalah kenyataan. Cita-cita anak-anak muda sekarang pada intinya kan bagaimana memperoleh bawang-barang mewah dan bergengsi, makanan enak dan unik dan juga bergengsi, naik mobil bermerk yang juga menetapkan gengsi. Karena hal itu yang sedang ditawarkan di kota-kota besar Indonesia. Pendidikan moral, pendidikan sekolah, khotbah-khotbah kiai/ustadz tidak memberikan motivasi anak-anak kita untuk menjadi manusia produktif. Dari 200 juta anak bangsa ini, para ilmuwan dan ekonom Indonesia hanya bisa dihitung dengan jari dibanding mereka yang hidup membuang-buang waktu di mall-mall.
Anak-anak muda seleranya saat ini TIDAK MAU KERJA KERAS, tetapi lebih membesarkan hidup bergengsi, sebagaimana dicontohkan orang tua mereka sendiri. Sudah saatnya ditemukan suatu strategi tepat-guna para pendidik menemukan resep tepat guna agar manusia Indonesia harus menjadi manusia yang produktif, serta mensejahterakan banyak orang, menjaga keharmonisan sesama mahluk hidup menjaga keindahan alamiah segala sesuatu. Betapa perlunya menjadi MANUSIA YANG BERPIKIR dan MENINGKATKAN KESADARANLUHUR bukan jadi manusia yang membebek dengan budaya orang luar.
Kiranya membangun moral diri bukan lagi dengan membuat organisasi baru seperti polisi syareat, atau berkoar-koar bahasa slogan dengan dogma-dogma kaku, tetapi saatnya para kiai, orangtua, guru harus menjadikan dirinya CONTOH konkrit sebagai idola kawula muda dan lingkungannya. Menentukan sikap hidup dengan mendekati sifat-sifat Tuhan yang 99 itu ( dan BUKAN SEKEDAR CUMA DIZIKIRIN JUTA-JUTA KALI tapi moral tetap memalukan). Para kiai hendaknya mengubah cara berdakwah... bukan lagi menyajikan menu yang cuma nakut-nakuti massa jemaah dengan urusan surga-neraka yang entah di mana alamatnya. BASI-lah itu.
Ini zamannya dibutuhkan para kiai/guru/orangtua yang cerdas dan bijak dengan menguasai perkembangan ilmu mutakhir, yang mengerti perkembangan teknologi mutakhir. Dibutuhkan kiai yang NGETREND DENGAN PERKEMBANGAN ZAMAN yang memberikan inovasi dan motivasi membangun mental luhur bukan kiai yang cuma berpatokan pada BUKU KUNING belaka dan lantang mendakwahkan surga-neraka 'mulu' (katabetawi: melulu). Kalau saja ada orang mati bangkit dan hidup lagi serta memberikan pembuktian adanya surga-neraka, dakwah dengan resep surga-neraka pasti jadi makanan favorit, ditanggung laris manis tanjung kimpul.
Kalau bapak-bapak PEJABAT REPUBLIK INDONESIA,PARA SUDAGAR YANG BERPECI/ BERSORBAN dan PARA KIAI BERGAMIS MEMBERIKAN TETAP CONTOH BURUK dengan telak depan mata dan menjadi objek berita tivi MEREBUT ISTRI ORANG DAN MENGUBER PERAWAN-PERAWAN CANTIK. Ya...... good bye-lah MORAL LUHUR... Bahwa perempuan Indonesia, yang calon IBU BANGSA, hanya mampu menghargakan dirinya sebagai pelacur, sebagai TKW yaaaaa.... bisa kita bayangkan wajah Indonesia 50 tahun ke depan...
Labels:
ani sekarningsih,
artikel,
budaya,
perempuan
Subscribe to:
Comments (Atom)






